Musibah atau Masalah; Apapun Namanya.

Saya belum bisa menyelidiki siapa bapak dari dua anak kembar ini. Entah lahir dari rahim yang berbeda atau sama. Saya juga belum tahu dari mana mereka datang. Entah dari Kampung Pencuri Babi atau dari Lembah Delapan Ek. Yang jelas keduanya sama-sama bikin repot. Bukan tidak bersyukur, tapi itu nyatanya.

Mereka berdua ini seperti sebuah noda kecil di sebidang tembok yang baru saja dicat putih. Atau penyok kecil di salah satu bagian bodi mobil. Atau gigi berlubang diantara gigi-gigi yang putih bersih. Walaupun mereka kecil dan bisa diatasi dengan langkah kecil, tapi keberadaannya memiliki potensi membuat heboh.

Kita pun kadang tidak sadar bahwa mereka itu kecil. So, jadilah kita seperti orang kebakaran janggut, kumis, cambang, bulu ketek dan lain lain saat menemui atau tidak sengaja bertemu mereka. Padahal sekali lagi mereka itu kecil. Kenapa? karena Tuhan memberikan dua kemudahan di atas satu kesusahan.

Kita tidak sadar betapa masih banyaknya bidang tembok yag masih putih, masih ada juga bodi mobil yang masih mulus, masih ada gigi-gigi yang masih putih dan bersih. 

Hal ini sebenarnya memperlihatkan betapa lemahnya manusia. Bangunan kekuatan yang sudah tinggi bisa tiba-tiba hancur karena hal kecil. Bayangkan, hal yang kita bangun bertahun-tahun kemudian runtuh karena sebuah hal kecil. Nyesek kan? Tapi lebih nyesek lagi Tuhan ngeliat tingkah kita. Mungkin Tuhan akan bertkata, “apa kalian tidak ingat berapa lama Aku memberikan kesempatan kepada kalian untuk menikmati bangunan itu”. Manusia itu sulit sekali ingat atau bahasa agamanya bersyukur.

Musibah dan masalah adalah sebuah cara Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur. Membuat kita lebih bisa menghargai apa yang kita sudah dapatkan sekarang. Lebih mensyukuri apa yang kita dapat kemarin dan lebih berpikir positif apa yang kita dapatkan besok.

Ngomong-ngomong masalah bersyukur, kadang kita juga perlu bersyukur sama manusia dengan terima kasih. Karena dia sudah berbuat banyak buat kita. Dan kalo dia sudah berbuat banyak untuk kita plus memberikan rasa yang lebih, rasanya terima kasih saja gak cukup. Sepertinya perlu balasan rasa yang lebih juga. Sekali lagi, itu lah manusia. Banyak lupanya ketimbang ingetnya. Hehe.

Repotnya dari keberadaan anak kembar ini adalah dampaknya kemana-mana. Yang kena masalah satu orang, yang kena dampak satu rumah. Belum lagi kadang anak kembar ini dampaknya suka ngerambat ke fisik. Ujungnya, dampaknya makin besar. Satu rumah heboh gak karuan. Sebentar-sebentar konsolidasi. Padahal masalahnya kecil sekcil-kecilnya. Cuma uneg-uneg yang gak bisa keluar. Kenapa? Karena gak ada telinga yang nyaman dijadikan pendengar.

Ah.., pentingnya sebuah telinga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s