Gara-gara Tidur dan AC

Syahdan, sebuah pasangan telah resmi melegalkan statusnya menjadi suami istri. Masa pacaran yang masuk dalam hitungan 8 bulan dianggap sudah cukup untuk saling menegenal dan mengerti. Belum lagi kesamaan minat, hobi, kesuskaan, ketidaksukaan, dan hal lain yang terlihat sepele menambah keyakinan untuk segera menikah. Hal ini juga yang membuat pasangan ini selalu mearasa berda di atas awan. Gelombang kehidupan yang dilalui serasa bergulung di tengah ruangan sejuk yang dipenuhi dengan bintang yang dibawahnya ada aliran air mengalir. Sehingga, dimanapun dana kapan pun gelombang itu meninggi dan merendah, semua terasa indah. Padahal dalam kurun waktu itu baru dua kali mereka bertemu karena si calon suami bekerja di luar kota. Chemistry yang sepertinya klop membuat waktu terlalu sayang untuk diulur.

Tak begitu lama dari resepsi, pasangan suami istri ini menempati sebuah rumah baru. Rumah yang dibangun dari nol. Rumah yang saat mendesainnya dilakukan oleh mereka saat masih pacaran. Rumah yang sesuai keinginan dan idealisme mereka berdua. Rumah yang asri penuh dengan pepohonan hijau, memiliki halaman depan yang luas dan dapur yang modern dilengkapi dengan peralatan masak masa kini. Maklum, si suami sangat mengerti kalau si istri suka sekali memasak dan membuat kue. Si istri pun sangat mengerti kalau si suami suka sekali ngemil dan makan. Sayang, ada hal yang luput dari mereka.

Saat makan malam, si suami tiba-tiba berkata jujur kepada istrinya kalau dia sebenarnya keberatan jika tidur menggunakan AC. Bukan masalah tagihan listrik, tapi karena si suami memang tak terbiasa tidur dengan AC. Sebab hal itu akan membuat si suami tidak bisa tidur lelap sehingga akhirnya mengurangi kekuatan tubuh si suami melawan penyakit. Alhasil, si suami akan sering sekali merasakan migrain yang parah. Mendengar hal itu, karena rasa sayang yang tinggi, si istri pun akhirnya mengalah. Malam ini mereka tidur tidak menggunakan AC.

Lewat tengah malam si suami tiba-tiba terbangun. Ia melihat istri di sebelahnya sedang berkipas menggunakan koran bekas. Si suami memegang baju istri dan ia mendapati bajunya basah terkena keringat. Karena rasa sayang yang mendalam, malam ini si suami mengalah. Mereka kembali tidur dengan AC. 4 hari setelahnya, si suami jatuh sakit. Si suami menderita pentyakit lingkaran setan. Penyakit yang bermula dari pikiran yang terlalu membebani, kemudian berefek pada kualitas tidur yang buruk, kualitas tidur yang buruk membuay antibody menurun, antibody yang menurun membuat penyakit mudah menyerang, penyakit yang menyerang membuat orang sulit tidur, dan terus berputar di sana.

Beban pikiran yang dierita si suami cuma satu. Karena ia tidak terbiasa tidur dengan menggunakan AC, namun dia pun tidak bisa melihat istrinya terganggu tidurnya. Akhirnya, saat kedua keluarga mereka berkumpul di kamar rumah sakit. Si suami pun bercerita tentang penyebab dan kedaan rumah tangga mereka untuk mencari solusi. Beberapa sanak saudara mengusulkan untuk pisah kamar. Solusi itu pun dijalankan.

Beberapa minggu berjalan, namun di suatu senin kedua pasangan ini mengobrol dan memparkan perasaan yang sama. Merasa aneh jika suami istri yang tinggal satu rumah tapi tidak tidur satu ranjang. Bukannya salah satu berkah menikah adalah kepemilikan teman tidur. Teman yang bisa memberi ketenangan di saat hendak menuju kematian sesaat. Teman mengobrol untuk berbagi kisah di tengah malam. Dan, teman untuk saling mengingatkan untuk bertemu Sang Pecinpta di sepertiga malam. Hal itu tak akan terwujud saat kamar mereka terpisah.

Singkat cerita, mereka tidak meneruskan bahteranya. Karena tidur adalah kebutuhan paling primer untuk manusia seelah makan. Apakah mungkin sebuah hubungan yang dieratkan malah membuat pemenuhan kebutuhan primer jadi tersingkir.

*Naudzubillah.

Hehehe. Cerita ini serius! Serius fiktifnya. Cerita ini hanya sebuah bayangan iseng. Saya adalah tipe orang yang gak biasa tidur dengan nyaman ditimang udara dingin buatan. Saya lebih suka udara dingin alami yang masuk lewat jendela yang terbuka lebar-lebar di kamar. Kebetulan kemarin saya terpaksa tidur menggunakan AC. Bener-bener nyiksa. Entah kenapa tiba-tiba hati ini nyeletuk repot juga kalo pasangan hidup beda selera masalah tidur. Keliatan sih sepele. Tapi tidur itu kebutuhan paling primer. Gak percaya? Harus percaya! Kalo kita masih emosi kalau dibangunin saat lagi enak-enaknya tidur. Over all jangan sampe siapapun dia ngalamin kejadian di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s