cerita radio lagi

Sederhana itu memang lebih punya cita rasa.

Beberapa butir sepupu menyambangi rumah untuk berlebaran. Seperti biasa, tanpa komando, kami langsung menggelar lapak, membeli amunisi untuk melek hingga pagi hari. Niatnya ingin bertanding poker, tapi karena seorang sepupu tidak bisa bermain, pertandingan poker pun berganti menjadi arena cerita. 

Di atas permadani, mata kami berpendar ke langit-langit. Tidak ada yang dilihat tapi tentu ada yang dibayangkan. Bercerita memang paling asyik saat tidak saling menatap, tapi saling merasakan. Terkadang bahan cerita habis. Seorang sepupu kemudian membuka gadget-nya dan memainkan sebuah rekaman pembicaraan seorang penyiar radio. Penyiar ini membeo tentang masalah klasik. Hati. Cerita masalah hati ini kemudian menjadi lebih seru didengar karena backsound yang mengiringinya.

Kami bertiga terdiam mendengar ocehan sang penyiar. Kami bertiga seolah memiliki ketertarikan yang sama terhadap apa yang dibicarakan si penyiar. Dan malam ini saya yakin bahwa ada ribuan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan ocehan si penyiar, namun dengan alur cerita yang berbeda.

Entah radio yang membuat kita menjadi memiliki ketertarikan yang sama yang dalam bahasa komunikasi disebut dengan teori Agenda Setting. Atau radio hanya memotret ketertarikan orang yang hampir semua sama ke dalam bentuk suara. Alhasil, saya berandai-andai suatu waktu berbagai orang dari berbagai daerah dan suku kemudian dipersatukan. Saya yakin awalnya semua akan saling diam. Namun saat rekaman itu dipasang, berbagai ekpresi akan terlihat lalu bertukar antara orang satu dan yang lain. Kemudian terjadilah percakapan secara non-verbal yang kemudian menjadi stimulus untuk terjadinya percakapan secara verbal. Saat itulah orang-orang itu akan bertukar cerita.

Cobalah pasang sebuah radio dari daerah lain. Dengarkan dengan seksama apa yang si penyiar bawakan. Jika kita tertarik itu berarti kita bisa bertukar cerita dengan orang yang ada di daerah itu.

Saya membayangkan, malam ini mendengar siaran radio dari Suarabaya. Besok pagi saya berangkat dan bertemu salah seorang pendengar radio itu di Surabaya di sebuah coffee shop kecil selepas maghrib. Saat itu, saya yakin kita akan segera meronce kata, menyusun diksi, mengutarakan kalimat kemudian menyambungkannya dengan kalimat lain. Ditambah sedikit senyum dan alis yang diangkat, kita pun akan segera bertukar rasa. Awalnya kadang serius dan mungkin sedikit ngenes, tapi biasanya selanjutnya tawa canda akan lebih dominan membahana.

Saat waktu kadang membuat kita terpaksa berpindah, namun kata tidak bisa memaksa kita untuk berhenti bicara. Bercerita sembari berjalan di atas trotoar menyusuri jalan-jalan kota atau berputar di sebuah tugu membuat waktu harus bertekuk pada kata-kata. Tapi waktu tetap punya kuasa memberhentikan cerita tapi bukan berarti memberhentikan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu kadang datang saat waktu memaksa kata-kata untuk berhenti. Karena saat itu kita tahu kalo kita sudah bercerita dan ada orang yang sudah mendengarkan cerita kita.

Radio memang selalu ajaib. Radio membuat kita tidak sendiri. Kita tahu bahwa ada orang lain yang mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Kita tahu bahwa ada orang lain yang berhasil menangani masalahnya.

Radio pintar memilihkan soundtrcak untuk sebuah cerita. Soundtrack ini yang membuat radio mewakili perjalanan hidup seseorang. Seperti soundtrack rekaman radio yang dipasang sepupu saya itu. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s