Langit warna air teh, Nemo dan Lampung

Masih inget tulisan tulisan saya dengan judul Langit warna air teh, Basil Valdez dan Lampung? Saya kembali mengalami tapi sayang make a wish saya di akhir tulisan belum dikabulkan. Saya tetap naik motor dan tetap bersama sepupu saya, Tata.

Edisi kali ini sebenarnya saya ingin mengunjungi pantai yang tidak begitu jauh, pantai Mutun, yang punya sensai prosotan yang ujungnya ada di laut. Tapi karena tujuan kali ini mencari pantai virgin maka target menjadi lebih jauh dari target di tulisan sebelumnya. Jauh sih tapi seru karena banyak pemandangan yang gak terduga yang dilewati.

Target kali ini adalah pantai Klara. Dari namanya aja kita serasa diajak menjelajah pantai-pantai di Amerika Latin yang kebanyakan pengunjungnya memakai bikini. Setelah meliak-liuk dan turun-naik melewati jalan beraspal kita bertemu sebuah jalan yang persis di sebelahnya bibir pantai. Tidak lama dari sana ada jejeran pohon kelapa. Kemudian terdapat sebuah pintu masuk menuju pantai Klara. Di pintu masuk terdapat plang bertuliskan “Selamat Datang di Pantai Klara (Kelapa Rapet)” hehe. Klara ada sebuah kependekan dari Kelapa Rapet.

Pantai Klara ini memiliki besaran pantai yang tidak besar. Maksudnya, jarak antara jalan dan bibir pantai cuma sekitar 20an meter. Di pinggir pantai berjejer gubuk-gubuk yang disewakan untuk bersitirahat, naruh barang, tidur-tiduran, atau pacaran. hehehe. Pantai nya landai dan dasar lautnya relatif berpasir namun itu hanya 20 meter setalah bibir pantai. Semakin ke tengah kawasan dasar lautnya semakin didominasi oleh karang yang relatif mengganggu kesenangan bermain air.

Semakin ke tengah karang semakin mendominiasi, tapi semakin ke tengah saya semakin penasaran karena kakak saya yang lagi snorkling tubuhnya seolah tertancap di bawah permukaan laut. Saya dekati dan mencoba meminjam alat snorkelnya. Saya kemudian menceburkan diri saya ke dalam air dan apa yang saya lihat. Ternyata karang yang dari tadi saya injak berwarna-warni. Tepat di bawah saya ada karang berwarna ungu. Saya teruskan mengayuh mencari-cari karang dengan warna lain. Selagi saya mencari karang dengan warna lain, segerombolan ikan kecil-kecil berenang melewati depan mata saya. Saya ikuti ikan-ikan itu seakan saya sedang mengerjar mereka dan mereka pun spertinya tahu sedang dikerjar. Mereka berenang bergerombol ke sana kemari seperti menggoda saya. 

Lelah mengejar ikan-ikan yang menggemaskan itu saya berhenti di sebuah lembah. Menyeramkan, tapi bikin penasaran untuk melihat di lembah itu ada mahluk apa. Ada alang-alang laut yang bergorang ke sana ke mari mengikuti arus air di bawah laut. Lama saya perhatikan alang-alang tersebut. Di dekatnya ada ikan bergaris kuning yang sibuk mencari makan. Setelah lama saya amati ikan-ikan itu ada hal menarik mata saya untuk melihat ke arah alang-alang laut. Ada seekor ikan kecil berwarna jeruk mengintip di balik alang-alang. Saya geser posisi agar bisa melihat lebih jelas, tapi sayang gerakan saya membuat ikan itu kembali ngumpet di balik alang-alang. 

Saya putuskan untuk diam di situ cukup lama, menunggu ikan itu muncul kembali. Sayang ikan tak kunjung muncul, tapi saya lihat di sisi alang-alang lain ikan itu melenggang ke arah tengah laut. Dan dari situ saya tahu kalo saya barus saja bertemu ikan yang paling tenar di jagad Box Office, Nemo atau Clown Fish.

Niatnya ingin mengejar tapi saya urungkan karena kakak saya sudah minta snorkelnya kembali. Baru saja saya ingin mengangkat badan tiba-tiba sesuatu di dekat karang membuat saya kembali menguburkan diri di dalam air. Ada karang yang bergerak. Bukan, ternyata itu bukan karang tapi ikan laut yang tekstur tubuhnya mirip sekali dengan karang. Di dekat ikan itu saya melihat Bulu Babi, mahluk bawah air yang mirip dengan buah rambutan berwarna hitam dengan duri lebih panjang.

Cukup rasanya snorkling. Saya putuskan untuk angkat badan, tapi saat saya mengangkat badan, gerombolan ikan tadi lewat lagi seolah meminta untuk dikejar kembali. Saya angkat badan dan saya sadar. Karang-karang yang saya injak tadi adalah taman laut.

Ah… Menyelami taman laut itu seperti melihat penari bugil. Mereka angkuh sehingga terlihat misterius tapi mereka sengaja selalu menggoda dan mencari perhatian. Ketika kita berusaha mendaptkannya mereka pergi.

Menyatu dengan penduduk bawah laut ini membuat beban hidup sementara hilang. Mahluk-mahluk lucu nan misterius ini menyajikan pertunjukan menarik yang membuat otak kita berhenti bekerja keras. Mengunjungi taman laut itu seperti band idola kita konser. Semakin lama dilihat semakin tidak mau behenti. Pantas kalo Ringgo Agus Rahman yang hobi diving pernah bilang “Jangan mati dulu sebelum diving”. Mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang patut dilihat. Mereka sepertinya tahu mana tamu yang datang untuk menikmati pertunjukan mana tamu yang datang untuk tujuan kejahatan. Maka, berhentilah menge-bom terumbu karang. Mereka terlalu lugu untuk mati konyol, mereka terlalu polos untuk dikomersilkan. Keluguan dan kepolosan mereka lebih mahal jika dinikmati di rumahnya.

Saat saya angkat badan saya, langit sudah berwarna air teh. Lampung, memang gak pernah ada habisnya. Selalu memberikan saya pengalaman baru setiap datang ke sana. Belum lagi tawaran bermain dengan lumba-lumba di sisi barat Lampung.

Lelah bermain air saya kembali ke pantai menikmati langit berwarna teh sembari ngemil kemplang, kerupuk khas lampung.

Bakso Sony

Puas bermain di pantai dan nengokin mas Nemo. Saya kembali ke kota Bandar Lampung tepatnya di Tanjung Karang. Sebelum kembali ke rumah, kita mampir dulu ke Bakso Sony untuk ganjel perut. Memang buat ganjel, karena saya dan Tata masih punya rencana buat isi perut di Nasi Uduk Toha yang paling tenar se-Bandar Lampung. 

Bakso Sony adalah bakso paling enak di Lampung dan bahkan di Jakarta mungkin. Bakso ini lebih banyak daging ketimbang tepungnya. Saking banyaknya daging sapi, bakso ini bahkan bisa jadi gantianya bola bekel. Bakso ini kenyalnya pake banget dan rasanya juga enaknya pake banget. 

Nasi Uduk Toha

Pak Toha adalah penjual nasi uduk yang punya tempat di jantung kota Bandar Lampung, Tanjung Karang. Dia menempati sebuah ruko sederhana. Nasi uduk pak Toha ini selain wangi juga lauknya yang bervariasi, salah satu yang paling maknyoss adalah empalnya.

Beda nasi uduk Lampung dan nasi uduk dari kota-kota lainnya terletak pada cara makan. Orang lampung yang katanya doyan pedas ini selalu mencampurkan sambel dengan nasi uduk sehingga nasi uduk kadang berubah warna menjadi merah karena campuran sambal. Selain itu, yang bikin asik adalah sambelnya yang diumbar sama penjual. Sambel nasi uduk di Lampung rata-rata dihidangkan dalam sebuah mangkok besar pelanggan bebas nyendok sambel semaunya. Jadi jangan pernah takut dicemberutin yang jual kalo minta tambah banyak-banyak sambel. Bahkan kadang semakin sering kita minta sambel semakin senang yang jual.

Motret Lampung

Ke Lampung edisi kali ini saya benar-benar memotret Lampung dari kaca mata seorang saya. Potret pertama saya adalah produk oleh-oleh khas Lampung.

Sebelum pulang saya mengunjungi sebuah gerai yang menjual oleh-oleh khas Lampung. Apalagi kalo bukan kain tapis yang divariasikan ke berbagai produk, seperti tas, dompet, peci, atau bahkan  kain batiknya doang.

Lazimnya sebuah toko oleh-oleh adalah keramahan penjaganya. Namun saya tidak menemuinya di sini. Saya tidak heran karena memang watak orang lampung yang keras dan serius. Stigmanya, budaya yang kaku bahkan cenderung keras sulit untuk membuat produk seni yang becita rasa tinggi. Namun, orang-orang lampung ini terkenal kreatif. Salah satu bukti adalah tapis. Tapis adalah seni yang bernilai tinggi. Ornamen tapis yang sarat bentuk garis yang patah-patah menandakan budaya orang lampung yang serius dan simpel, gak banyak basa-basi. Namun budaya simpel ini kemudian diolah sedemikian rupa dengan dikomdbinasikan dengan beberapa warna kemudian menjadi tapis.

Produk kreatif orang lampung tercermin juga di mobil angkotnya. Mobil angkot di Lampung tidak ubahnya canvas bagi supirnya. Ada banyak ornamen dan stiker bertengger di sekujur body mobil. Stiker-stiker ini mencerminkan si yang punya mobil atau si supir. Salah satunya ini yang agak nyeleneh yang berikut ini.

Salah satu produk kreatif orang Lampung adalah kata-kata. Kata-kata ini saya dapatan ketika bertemu temannya sepupu saya yang konon anggota DPRD Tulang Bawang. “Titi Dj dan Dedi Dores” Mereka adalah dua penyanyi kawakan, tapi buat orang lampung dua penyanyi ini punya makna yang luhur, mau tau? Tunggu di akhir tulisan. 

Potret lampung tekahir adalah menara Siger yang menjadi landmark provinsi Lampung. Menara Siger semacam tugu selamat datang yang berbentuk siger (mahkota yang biasa dipakai di baju adat Lampung) yang terletak di atas bukit sehingga dari pelabuhan Bakauheni menara ini elok dilihat. Dan dari menara ini juga kita dapat melihat aktivitas di pelabuhan Bakauheni. Proyek menara ini sangat prestisius dan memang patut dibangun sebagai landmark provinsi Lampung karena selama ini memang tidak ada. Tapi, sayang menara yang juga difungsikan sebagai museum dan panduan wisata tidak terawat. Hal yang amat disayangkan.

Menara Siger menutup penjelajahan Lampung episode kali  ini. Kebetulan saya meninggalkan Lampung di sore hari jadi seolah-olah meninggalkan Lampung dengan Khusnul Khotimah. Saya berlayar menyeberangi Selat Sunda saat matahari mulai terbenam. Sehingga semburat jingga di langit lampung menemani pelayaran saya sore itu.

 Titi Dj Dedi Dores (Hati-hati di Jalan Dengan Diiringi Doa Restu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s