Kota Kecil dan Sopir Ngambek

Baru saja saya melihat sebuah kartun loka berbahasa banyumasan alias ngapak. Di salah satu scene-nya kartun ini bercerita tentang pengalaman anak sekolah yang harus terlambat atau bahkan gak masuk sekolah gara-gara persoalan angkutan. Biar lebih jelas, ini link film kartunnya http://www.youtube.com/watch?v=ma7iOsi_cTU

Pagi ini langit agak pundung, matahari agak malas rasanya untuk bangun. Kabut-kabut tipis melenggang perlahan ke bumi.

*ceritanya flashback. Situasi pagi ini sering saya rasakan saat sampai di sebuah stasiun di sebuah kota kecil di selatan Jawa Tengah. Setelah lelah semalaman bergabung bersama berbagai jenis dan status manusia di sebuah gerbong.

Perjalanan masih harus dilanjutkan. Saya masih harus menaiki angkutan massal lain ke kota yang sebenarnya saya tuju. Dari stasiun saya harus berjalan kurang lebih 200 m ke jalan raya untuk bisa sampai ke terminal atau menurut saya lebih pantas disebut halte. Maklumlah kota kecil, jadi terminalnya juga minimalis.

Walaupun minimalis, hiruk pikuk angkutan di kota kecil ini cukup padat. Anak sekolah, pekerja, guru, dan berbagai profesi lain berebut angkutan agar sampai di tempat tepat waktu. Peran angkutan di kota kecil ini cukup signifikan karena kota ini terhitung sebagai kota satelit di mana masyarkat kota ini banyak beraktivitas di kota tetangga. Selain itu, tipikal kota kecil biasanya bersifat centris, di mana semua hal yang sifatnya pelyanan masyarakat berada di kota. Semisal sekolah, bank, kantor pos, atm, BPR dan kantor-kantor lain. Sedangkan masyarakat pengguna pelayanan publik tersebut kebanyakan berasal dari dusun-dusun sekitar. Maka tak heran jika angkutan di sebuah kota kecil beroperasi hanya pada jam-jam tertentu menurut kebiasaan.

Saya pernah sekali merasakan dampak jam operasi angkutan yang “menurut kebiasaan” ini. Namun alasannya bukan karena keterlambatan, tapi karena bus yang biasa saya tumpangi untuk melanjutkan perjalanan ke kota yang saya tuju supirnya sakit, menurut kernet. Tapi setelah saya nguping percakapan kernet dg sesama kernet, katanya si sopir ngambek. Haha.

Walhasil, sekitar 40 penumpang terlantar dan terpaksa menunggu bus berikutnya yang artinya harus menunggu 1-2 jam lagi. Padahal penumpang-penumpang bus ini harus tiba di tempat tepat waktu. Salah satu penumpang adalah dosen yang harus mengisi seminar di Ibu Kota Jawa Tengah. Maaf ya pak saya hanya bisa terkekeh dalam hati. Kasian juga tuh dosen.

Saya yang tidak ada kepetingan buru-buru hanya cukup menikmati dinamika kota kecil seperti ini. Di kota kecil seperti ini angkutan massa dapat menentukan prestasi seseorang. Orang bisa sekolah atau tidak, masuk kerja atau tidak, ngajar atau tidak, dipengaruhi angkutan. Dan lucunya orang-orang yang di kota kecil ini faham akan hal itu. Tidak ada kemarahan saat seorang pekerja datang terlambat. Tidak ada guru yang marah saat muridnya datang terlambat, atau bos yang marah saat anak buahnya datang terlambat. Di kota kecil ini semua serba mafhum.

Bisakah orang-orang di kota besar serba mafhum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s