Rupamu Seindah Cemilanmu

Rumah itu kental sekali nuansa kolonialnya. Maklumlah rumah itu memang peninggalan Belanda. Halamannya tidak besar tapi sangat rindang. Sunyi saja. Sepi sekali. Hanya ada mobil vw kodok putih milik mahasiswi sastra jawa yang sekaligus penghuni rumah ini terparkir di carport.

Angin berdesir cukup besar. Semakin dalam aku masuk ke rumah itu, semakin tercium bau melati berbaur dengan bunga sedap malam. Akh, wangi-wangi relaksasi yang nyaman.

Aku tapaki 3 buah anak tangga menuju teras rumah itu. Di langit-langit teras ada lampu peningglan belanda yang antik. Lampunya berwarna kuning membuat suasana teras menjadi remang. Di depan kulihat dua buah daun pintu besar. Di samping kanan-kiri pintu tersebut ada jendela dengan dua daun jendela yang bisa dibuka ke arah depan.

Tadinya aku ingin mengetuk pintu rumah itu, tapi kurungkan, mengingat sepinya rumah itu. Aku berpikir orang yang kucari tidak ada di rumah. Aku berdiri di depan pintu, mengmabil hp untuk menghubunginya. Ku kirimkan sms. Selagi menunggu sms terkirim kulihat suasana sekitar. Ada yang menarik di gagang pintu itu. Pada gagangnya yang bulat ada lambang yang biasanya kita temui di Eropa. Semacam lambang klan sebuah keluarga. Tak terlalu jelas. Tapi aku bisa lihat ada dua naga bermahkota melingkari sebuah perisai. Hanya itu yang terlihat karena pintu keburu dibuka.

Kulihat Nimas membuka pintu. Memakai daster batik tidak berlengan dengan kerah yang rendah. Ayu sekali. Semakin ayu dengan keterampilannya menari. Saat pintu terbuka, kucium bau dupa menyengat dari dalam rumah.

Aku dipersilakan duduk di kursi antik dengan meja rendah yang ada di teras. Baru saja aku duduk, terdengar suara seorang perempuan tua mengalunkan tembang jawa, atau biasa disebut macapat. Aku menikmati ini. Desir angin malam di sebuah rumah lawas bergaya kolonial yang perabotnya antik-antik ditambah wangi-wangian natural dari bunga dan dupa yang sempurna dengan tembang jawa.

“itu ibumu, Nim, yang nembang?” kataku memancing karena niatku ke sini untuk menunjukan bahwa aku tertarik untuk serius dengan Nimas.

“bukan. Itu Mbah Tune In” balas Nimas.

“Hah?! Mbah Tune In? Kok keren namanya?”

“haha. Iya. Namanya sebenernya Tuniyah. Aku manggilnya Tune In. Kalo dulu ada terusannya. Aku panggil dia Tune In Yah”

“haha. Bisa aja. Gara-gara dia tiap malem nembang gitu?”

“Iya. Bener banget” jawab Nimas sambil terkekeh.

“Itu Mbah asli mu? atau…?” tanyaku

“Itu abdi di sini”

“Oh.. Kamu cuma tinggal berdua aja, Nim?”

“Iya. Setelah ayah mangkat. Dua tahun kemudian ibu nikah lagi. Sekarang ibu iktu suaminya tinggal di Jakarta”

“Oh.. Sorry ya, Nim..”

“Santai aja. Oya, ngeteh ya? Bentar tak ke belekang dulu” pamit Nimas ke belakang mengambil teh.

Saat Nimas ke belakang. Aku cuma diam menikmati suasana romantis nan eksotis teras itu. Bau dupa masih terus bisa kucium di teras. Kadang menyengat kadang tidak, tapi yang jelas wangi melati itu begitu kencang di teras ini. Berpadu dengan bunga wangi sedap malam yang ditaruh di vas bunga di meja itu.

Pintu rumah terbuka. Sedikit aku bisa lihat interior dalam rumah itu. Perabotnya antik-antik. Kulihat Nimas berjalan ke belakang. Sepertinya dari kamarnya menuju dapur. Sebelum jalan ke dapur kulihat Nimas mengambil cangkir-cangkir di lemari kaca. Wajahnya yang sedikit londo itu terlihat tertimpa cahaya lampu dari lemari kaca itu. Aku kenal wanita berperangai lembut-lembut jawa itu saat mengadiri acara Gamelan Gaul. Kebetulan Nimas waktu itu ikut mengisi acara. Adalah temanku Toro yang malas membantu proyekku mengenalkan aku pada Nimas seusai dia pentas menari.

Aku penasaran dengan asal wangi melati itu. Kucoba cari-cari. Ternyata ada beberapa melati yang ditaruh dekat pajangan gong di sudut teras itu. Belum lama aku perhatikan, Nimas sudah kembali dengan nampan berisi poci teh stainless, sebuah mangkok terbuat dari batok kelapa, dan dua cangkir berwarna putih dengan corak yang sulit dikenali. tapi aku yakini itu adalah sebuah lambang. Aku langusng kembali ke tempat duduk.

Nimas menyughkan teh itu dihadapanku. Karena meja yang pendek, Nimas terpaksa menunduk saat menyuguhinya dan di saat itu juga kulihat sebuah bandulan kalung keluar dari daster batik itu. Kuperhatikan sejenak, ternyata bandul itu memiliki motif yang sama dengan lambang yang ada di pengan pintu. Dan ternyata lambang itu juga yang aku lihat di cangkir tersebut.

Nimas, mempersilakan aku meminum tehnya. Sebelum kuminum, wangi melati itu semakin kuat. Aku mulai curiga, atau takut mungkin. Tapi ketakutanku kemudian luntur karena aku ingat yang aku seruput itu adalah teh  beraroma melati.

Malam itu, kami berbincang hangat. Sebenanrya niatku ke rumah Nimas semata-mata ingin membicarakan rencana untuk membuat sebuah literasi tentang loca wisdom jawa dan kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Seperti pepatah AJI NING RAGA DUMUNUNG ANA ING BUSANA yang artinya secara harfiah jika harga diri seseorang dinilai dari busananya. Artinya pepatah ini erat kaitannya dengan performance seseorang salah satunya dilihat dari apa yang dia pakai. Pepatah ini juga menunjukan betapa identitas itu penting. 

Niat tinggal niat, pembicaraanku dengan Nimas nejalar kemana-mana. Rasanya kita berdua merasakan nyaman yang sama. Rasanya saya sudah kenal Nimas begitu lama. Senyum dengan lesung pipit  itu rasanya yang membuat aku betah berlama-lama ngobrol denga Nimas. Senyum itu rasanya nyess di hati.

Obrolan berlanjut dan semakin seru. Seseru Nimas ngemil makanan kecilnya yang dari tadi dia ambil dari mangkok yang dibawa bersama teh. Penasaran sebenarnya tapi sepertinya cemilan itu memang khusus untuk Nimas, karena mangkok itu dia taruh dekat sekali, di atas kursi tepat disamping pahanya. 

Tidak terasa teh yang disuguhkan Nimas hampir habis. Menyadari hal itu, Nimas segera bangkit untuk ke belakang untuk menambah air panas di poci itu. Selagi Nimas ke belakang kucoba melihat keadaan langit malam. ternyata purnama. Jelas sekali bulatnya bulan, sejelas hidungku membau wangi melati yang tak kunjung surut. Aku makin penasaran, padahal teh sudah habis tapi wangi melati itu masih menyengat. 

Agar rasa penasaran ini hilang kucoba mengkuti dari mana bau itu berasal. Kuendus-endus bau itu. Wangi melati itu menuntuk hidungku menuju sebuah titik, mangkok yang Nimas taruh di kursinya. Kudekati mangkok itu dan semakin yakin kalo itu adalah sumber wanginya. Kubuka mata lebar-lebar ditengah lampu yang remang, kulihat ke dalam mangkok. Ada banyak petikan bunga melati di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s