Cheese Cake di Stasiun itu…

“kapan pulang, Dim?” 

“Ini lagi otw ke Stasiun, Din. hehe” 

“Kok gak blg”? Keretanya brkt jam berapa?”

“Kamu kan gak nanya. Sejam dari sekarang. Brkt dulu ya..”

“Tungguin aku di sana..”

“Heh?! ngapain ke ikut-ikut ke stasiun? Mo ikut ke Bandung gitu?”

Sms tak berbalas.

_____

Seperti biasanya, stasiun selalu seperti itu saja. Suara pengumuman, kelakson kereta, bunyi lonceng sinyal, suara penjual menjajakan kopi, oleh-oleh khas, dan pluit kepala perjalanan kereta api saling berebut tempat bertarung dengan lampu-lampu yang mulai menyala menjelang malam.

“Kamu ke luar dong, Dim. Aku gak bisa masuk ke dalam”

_____

“Maaf, Mas. Pengantar tidak boleh masuk” kata petugas peron.

“Ini penumpang, Mas. Ini tiketnya” ujarku sambil menyodorkan tiket ketiga temanku yang aku pegang.

_____

Sembari melangkah ke ruang tunggu.

“Ada apa, Din?. Mau ikut ke Bandung ta?”

“Gak. Ini aku bawain cheese cake”

Langkahku berhenti. Ku tatap matanya dalam-dalam. Bibirku melengkung ke atas. Suaraku melemah.

“Makasih ya..” Kulanjutkan langkahku. “Kamu beli dimana, Din?”

“Bikin..”

Langkahku berhenti lagi.

“Boong”

“Gak percaya yaudah”

“Tapi kok cuma satu, temen ku ada tiga tu..”

“Bikinnya 5, yang empat belum jadi”

“Hehe. Makasih ya.. Yuk ke sana. Aku kenalin sama temen-temenku”

_____

Setelah berkenalan dan berpamitan dengan teman-teman untuk menyatap cheese cake, ku ajak dinda duduk. Kami duduk disebuah bangku besi panjang untuk 4 orang yang masing-masingnya cuma disekat dengan besi peranti sandaran lengan. 

____

Sambil menatap rel kereta yang kosong.

“Tumben, Din, bikinin Cheese Cake?

“”Kemaren waktu aku nitip kaos itu kan dah janji”

“Tapi kan kamu katanya mau beli”

“Iya, tadinya sih gitu tapi setelah dipikir secara seksama kayaknya mending bikin”

“Baguus.. Hemat pangkal kaya. Hehe”

“Bukan gituu.. Lebih enak bikin juga”

“Masak sih? Aku cobain ya..”Aku ambil sesendok kecil pudingnya

“Enak gak, Dim?”

“Wah, aku sih belum pernah makan makanan model begini. Tapi ini enak”

“iihh dasar..” jawab Dinda sambil meyodorkan tisu.

____

Setelah habis setengah, kuberikan sisanya ke teman-teman. Ku lap tangan menggunakan tisu yang diberikan Dinda. Kutaruh tanganku dibawah besi peranti bersandar lengan.

“Kapan ke sini lagi, Dim?”

“Gak ngerti. Gak ada rencana lagi. Kenapa, Din?”

“Gak apa-apa” kata Dinda sembari menghembuskan nafas panjang.

Telapak tangannya berpindah ke bawah besi peranti sandaran lenagan, mendekati tanganku.Dinda terdiam. Bola matanya berair. Tatapannya kosong ke arah rel. Kutatap wajahnya dalam-dalam.

 ”Kenapa ya, Din?” Dinda hanya menjawab dengan gelengan.

____

Aku ikuti Dinda. Menatap kosong rel kereta. Namun diujung jari tanganku terasa ada kehangatan yang menjalar. Ya. Jariku dengan jari Dinda hanya terpaut beberapa senti. Rasa hangat itu kemudian menjalar melewati sel-sel darah lalu sampai ke otak kemudian memberi perintah bahwa jari lentik itu butuh genggaman.Kuberanikan menaikan telapak tanganku ke punggumg telapak tangan Dinda dan disaat yang sama Dinda melihatku dengan mimik wajah yang kaget. Seolah dia tidak menyangka aku lakukan itu.

Melihat ekspresi itu. Aku segera angkat tanganku, tapi baru saja beberapa senti terangkat, tanganku turun kembali. Jemari lentik Dinda menyambar jari-jariku. Kami saling tatap. Kulihat wajah Dinda. Ekspresinya seolah berkata “jangan dilepas”. Kami kembali menatap rel kosong sembari kugenggam erat jari-jari kecil nan halus dan hangat itu.  Ada rasa yang tak terukur saat diam kami. Ada nyaman yang tak terganti pada genggaman itu.

Tak putus. Bahkan sampai aku berdiri di atas peron menunggu kereta datang, kami masih berpegang tangan. Sedikit saja kendur, Dinda langsung mengencangkan lagi dan aku pun demikian. 

“hati-hati..” ujar Dinda lirih melihatku melangkahkan kaki ke pintu kereta yang akan berangkat.

“hati-hati juga pulangnya. Kalo uda sampe rumah kabarin” ujarku mencoba tegar. 

“He’eh” balas dinda dengan anggukan dan ekspresi menahan air mata.
____

“aku uda sampe rumah” sms Dinda.

____

“kok gak bales? tidur?” Dinda mengirim sms keduanya.

“speechless” balasku.

“kenapa?”

“Aku tahu jari yang tadi aku pegang sebentar lagi akan bercicin”

Sms tak berbalas.

____

Kubuka twitter, kudapati Dinda menulis:”Kabayan-nya uda pulang.. Hiks hiks. Hati-hati..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s