Langit warna air teh, Basil Valdez, dan Lampung

NB: Pasang dulu lagunya, baru baca blognya.

Tahu air teh yang baik? Teh jika terlalu pekat akan coklat warnanya. Selain itu rasanya pun akan sepat, sedikit asam. Teh yang baik berwarna keemasan. seperti apa? seperti jika tuan dan nyonya minum air teh yang disediakan penjaja makanan kaki lima. 

Tahu kapan waktu terbaik menikmati langit? waktu langit berwarna air teh terbaik. Tahu kapan langit berwarna air teh terbaik? itu senja.

Senja itu waktu santai. waktu yang pantas dinikmati dengan properti yang santai. Termasuk di dalamnya lagu. Sore ini saya memasang salah satu lagu Basil Valdez. Judulnya You. Dulu, lagu ini milik seseorang, tapi sekarang lagu ini berstatus quo.😀

Sampai saat ini, setiap denger lagu basil valdez saya selalu ingat tempat saya menghabiskan separuh masa kecil. Bandar Lampung. Sebuah kota pinggir pantai yang panas namun sore-nya selalu hadir dengan riang.

Langit sore di Bandar Lampung sering hadir dengan warna air teh. Kecuali musim penghujan. 

Suatu saat, saya pernah melewati sore di Lampung dengan berjalan menuju sebuah pelelangan ikan. Waktu itu, saya dan beberapa sodara ingin menghabiskan malam di pantai ringgung dengan memancing ikan. Sayang peralatannya belum sempat dibeli. Alhasil saya dan sepupu saya harus ke pelelangan ikan karena cuma di sana tempat yang menyediakan alat penacing lengkap. 

Jarak antara pantai ringgung dan tempat pelelngan ikan sekitar 5 km. Jalan yang kita tempuh beraspal mulus. hanya ada beberapa lubang, tapi tidak seberapa. Pemandangannya? jangan ditanya. Seringkali jalan bersebelahan dengan pantai kemudian membelok dan menanjak. Lalu masuklah kita ke celah bukit, tebing mendominasi sisi kiri dan kanan jalan. Tebing-tebing ini dipenuhi dengan akar pohon yang merambat ke bawah. Di sinilah nilai eksotisnya.  Belum lagi saat bukit akan berkahir dan jalan mulai menurun, dari kejauhan telihat laut tenang yang airnya menkilat kena sinar matahari.

Tak berapa lama, kami melewati perkampungan setempat. Beberapa rumah terlihat masih menggunakan kayu sebagai dindingnya. Antara miris dan eksotis, terlihat beberapa bapak-bapak di beberapa rumah sedang menyalakan patromak untuk menghadapi malam nanti. Anak-anak kecil berkulit legam dangan rambut basah disisir asal dan bedak cemong-cemong terlihat masih sibuk bermain di lapangan kecil berumput jepang.  Saat melewati perkampungan ini, pikiran saya mengawang. Malam di kampung ini mungkin sama seperti malam di perkampungan nelayan yang sering muncul di film-film. Dimana malam dengan angin besar, lampu patromak yang digantungkan di depan rumah bergoyang ke sana- ke mari terkena tiupan angin. Lalu laut beombak cukup besar. Di kejauhan terlihat kapal nelayan oleng karenanya. hehe. Imajinasi tinggi. Tapi jelas hal itu sangat tidak mungkin terjadi di perkampungan ini. Kalopun terjadi pasti karena badai.

Kenapa tidak mungkin? tempat saya tinggal namanya teluk betung. Tahu kan teluk? Ringgung dan tempat pelelangan ikan itu berada di teluk yang ditengahnya banyak pulau-pulau kecil yang bertugas memecah ombak dan angin ke pantai. Otomatis, ombak di pantai di daerah teluk tidak besar, makanya saya bilang tadi laut tenang.

Beres lewat perkampungan saya lewati barisan pohon-pohon kepapan yang melambai halus. Kadang masih terlihat beberapa tupai liar yang asik melompat-lompat. Sayang motor terlalu cepat jalannya sehingga saya tidak berhasil membuktikan pepatah “sepandai-pandai tumpai melompat pati jatuh juga”.

Sampai tempat pelelangan ikan tidak sulit mencari toko yang menjual alat pancing. Selesai mencari alat pancing, kami masuk untuk mencari cumi sebagai umpan mancing. Ada cerita unik dibalik cumi. Kami menyebutkan umpan all in one. Nasib manusia itu tidak selalu mujur. Asisten dewi fortuna juga kadang resign tiba-tiba. Inilah yang bikin kita pending hoki. Saat mancing, kadang kita terpending hoki. Beberapa buang umpan tapi hasilnya nihil. Manusia juga punya sabar yang terbatas. Saat batas sabar itu sudah lewat maka mancing pun akan terhenti. Pelampiasannya, turun ke pantai, bakar belarak (daun kepala kering), ambil umpan a.ka. cumi, ambil kecap, cari lidi. Tusukkan beberapa cumi ke lidi, balurkan kecap, dan kita makan malam cumi bakar. Selain bisa buat umpan, cumi juga bisa buat lauk makan malam. haha.

Penjual cumi ada dekat dermaga di mana kapal-kapal nelayan warna-warni dengan nama-nama unik bersandar. Mereka sedikit terombang-ambing dan eksotis. Eksotis karena matahari mulai turun, dan warna air teh mulai terlihat. Sinar keemasan mengintip dibalik bendera dan tiang-tiang kapal nelayan. Bebeapa orang di atas kapal menyiapkan tali untuk melaut malam hari ini. beberapa orang sibuk memandangi saya dan sepupu saya Tata. beberapa kata yang dibilang sama nelayan-nelayan itu masuk ke  kuping saya. beberapa kata itu adalah “bule”. 

Orang-orang yang menyangka saya dan sepupu saya bule pasti akan cepat menyesal. Bahkan istighfar begitu melihat saya dan sepupu saya menawar harga cumi.

“pira iki, Yu?”

(berapa ini Mbak?)

“Wiiihh, aja, geh. Kurangi maning lah.. Kita arep tuku rong kilo ki”

(Wah jangan segitu, lah. Kurangi lagi. Kita mau beli dua kilo ni)

Bahasa yang lazim digunakan di sana adalah bahasa Jaseng, jawa serang. Semacam bahasa orang cirebon. “Geh” adalah kosa kata asli lampung yang kalo di daerah jawa sama dengan kata “lah”. Mau tau tampang sepupu saya?

niii…

Tata a.k.a tatahe

Tugas selesai. Saya harus kembali ke Ringgung. Melewati jalan tadi dengan langit berwarna air teh. Lalu mana lagu Basil Valdeznya? 

Saya berkhayal suatu saat saya melewati jalan itu mengendarai mobil dengan memutar lagu Basil Valdez ditemani seseorang yang duduk di sebelah saya.  hehe.

Tulisan saya semuanya fakta, kecuali paragraf sebeleum ini. Itu belum juga kesampaian.

Semoga secepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s