elo, gue, radio

Suatu hari di sebuah rumah gaya tahun 80-an di bilangan jalan Kaliurang Jogjakarta, berkumpul beberapa mahasiswa dan dosen untuk mengaji. mengaji berbagai macam media yang berseliweran di pasaran. tak ada yang spesial di rumah rimbun itu, hanya satu dua tawa lolos melewati pintu yang sedikit terbuka agar angin lembut di luar bisa dinikmati di dalam. Kala itu senja di Jogjakarta sedang ramah-ramahnya. Alhasil, obrolan kami menjadi renyah, bukan garing. Sampai seorang dosen, Mas Wisnu (Wisnu Martha Adiputra) bilang kepada kami.

“sampai saat ini, radio adalah salah satu bentuk media yang paling dekat dengan audiensnya. seperti saat di mobil, sedang macet ataupun tidak. Bahkan sampai saat ini, cuma radio, media yang dijadikan teman tidur audiensnya. Banyak orang yang terbiasa tidur atau baru bisa tidur kalo sudah pasang radio”

Saya yang cukup addict dengan radio waktu zaman SMA. Inget Putus di prambors? atau Ricko Ceper di Mustang, terus ada juga Radio Suara Kejayaan atau SK. Atau hard rock dg Indi barens dan Farhan. Semua itu adalah teman-teman sya waktu SMA. Dan di sore itu, sadarlah saya tentang karakter media yang saya senangi waktu SMA itu.

Selain paling dekat, radio itu menurut saya lebih bisa membuat audiensnya pintar. Berbeda dengan tv atau koran, radio bukan media yang baik hati yang dapat melayani kebutuhan beberapa indra. Media tv dan koran membuat kita manja, karena kita disuguhi bacaan dan situasi dari hal yang kita baca. Di Radio, kita hanya bisa mendengar, otomatis untuk lebih meresapi maka kita harus berimajinasi dan berasosi segala kicauan si penyiar. Maka tidak heran, jika radio adalah media yang nikmat karena kita bebas mengimajinasikan sendiri suasan berita atau info yang dituturkan penyiar.

Tidak hanya itu, radio juga membuat pintar penyiarnya. Bagaimana tidak, penyiar perlu kecakapan tingkat raja-raja timur tengah dalam artikulasi dan intonasi suara. Penyiar harus dapat memberikan gambaran situasi lewat suara. Misal, kabar kematian Istri bang Ipul yang notabene harus sedih. Nah, penyiar harus bisa membawa audiens dengan suaranya kepada situasi sedih. Makanya, presenter yang dulunya penyiar, terlebih penyiar radio jaman dulu, lebih bisa membawa emosi penontonnya. Saya kira, Coky Sitohang bisa dijadikan contoh.

Keunikan radio yang paling nyentrik adalah menjadi teman curhat. tidak ada media yang bisa mejadi teman curhat selain radio. Inget adegan akhir film From Bandung With Love? atau buat yang pernah di Jogja, inget Greatest Memory di Yasika FM? Buat yang gak tau, Greastest Memory adalah program dari Yasika FM Jojga. Penyiar di program ini membacakan surat atau email yang dikirimkan pendengar terkait kisah hidupnya, terutama masalah cinta. Cerita yang dikirim kemudian dibacakan oleh penyiar dengan gaya narasi yang khas. Intonasinya dicocokan dengan situasi di surat tersebut. Ditambah lagi backsound yang mellow pisan. Kalo Anda pernah atau sering denger Greatest Memory, coba deh ngaku ikutan mellow kan kalo denger?

Sampe sekarang sih saya masih seneng denger radio. Kalo sekarang sih dengernya streaming di internet jadi bisa dapet radio dari luar daerah tempat tinggal. Salah satunya Jogja lewat www.jogjastreamers.com. Nah ketemu lagi kelebihan radio. Radio adalah salah satu media yang bisa dinikmati lewat internet dg cepat, dengan streaming tentunya.

Inilah hebatnya radio, kawan. Radio itu sahabat portable. Radio itu pendengar yang baik. Radio itu yang ngasih tahu ke seluruh rakyat bahwa Indonesia uda merdeka. Radio itu suara dan tampang penyiar biasanya berbanding terbalik. hehe. dan Radio itu teman sejati, dia ada bahkan di saat kita sendiri. Seperti malam ini. Saat saya sendiri karena dia sudah baikan lagi. 

So? listen to the radio.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s