gara-gara mawar bodas Gayus bisa jadi presiden

selain supir dan sebangsanya, gak akan ada yang tau apa itu mawar bodas. berawal saat saya mengisi kekosongan di hari sabtu entah di bulan apa. saya yang berasa pejabat Departemen Perhubungan meninjau daerah terjadinya antrean truk yang mengular di pelabuhan merak. bedanya, saya nek bus umum. tapi, biar umum tingkah laku kami gak beda-beda jauh sama pejabat yang sok serius ngurusin negara. kami berbincang mengenai langkah konkrit yang mungkin diambil untuk mengatasi krisis di pelabuhan merak. beragam analisis kami lontarkan. dari mulai yang serius, mempertimbagnkan efek sosial dan geografis solusi kami, sampai aspek yang sama sekali gak beres, seperti aspek sex. gak nyambung memang, tapi itulah yang kami bicarakan.

Sampe di merak, keadaan membuat kami (saya dan teman saya) terkaget-kaget. Bayangkan anteran truk bermil-mil yang disajikan di tv ternyata tidak terlihat sama sekali. Usut punya usut, ternyata di Jumat malam antrean truk sudah mulai berkurang. Berhubung kentang (kena tanggung) jadi pejabat gadungan, akhirnya kami lanjutkan peninjauan ke pelabuhan Bakauheni. Which is kami berdua nyebrang ke pulau sumatera. Sekalian teman saya yang itu belum pernah ke sumatera.

Kapal pun kami tumpangi. Ada yang baru dari sistem pembelian tiket di pelabuhan. Sepertinya pengelola pelabuhan sudah tidak lagi mendominasi. PT ASDP yang mengelola pelabuhan mulai mengurangi kapal-kapalnya, sedangkan kapal-kapal yang beroperasi dimiliki oleh pihak swasta, jadi pihak ASDP hanya sebagai pengelola. Selain itu, pembelian tiket juga berbentuk digital, seperti naik busway gitu, alias uda gak pake karcis lagi. Selain itu lagi, data penumpang mulai dicatat secara detail. Nama, alamat, dan nomer hp dicatat oleh petugas ke dalam laptop. kaget juga saya lihat hal kayak gini. Tergelitik hati ni untuk bertanya. “wah, sekarang kayak gini ya, Pak?” Karena pertanyaan diawali dengan tergelitik, alhasil jawabannya juga bkin ketawa. Si petugas bilang “iya, Mas. kemaren baru ada kapal kebakar. Makanya kita data biar gampang kalo ada apa-apa”.

Hahahaha. Saya bingung, ini antara ketawa dan pucat pasi. Ketawa gara-gara ada perusahaan yang baru ngalamin krisis terus krisisnya di-sounding ke penumpang. Kalo saya orang bule mungkin uda gak jadi tuh naek kapal. Pucatnya karena sepersekian persen resiko plus takdir Tuhan, saya bisa jadi korban kebakaran selanjutnya. Mak jaaaang.

Baiklah, peninajuan harus tetap berlangsung. Maklum tugas negara. haha.

Di kapal, saya menjajal mental untuk duduk di ruang VIP tanpa bayar. Jadi gini, kalo agan-agan mau masuk ruang VIP, maka agan nambah RP 5.000. Murah kan, dapet tempat duduk nyaman, ac, plus organ tunggal, plus penyanyi bohay (baca: cewek dengan tubuh subur dibalut pakaian warna-warna mencolok yang super ketat) Bisa bayangin, kan? Nah, biar gak bayar masuk ruang VIP, agan-agan tunggu aja 30 menit di luar ruangan itu, niscaya penjaga ruang itu sudah cabut entah kemana karena dia pikir gak ada yang masuk lagi, jadilah kita masuk ruang VIP gratis. (itu sih bukan tes mental, tapi akal-akalan)

Selagi kami menuggu di depan, keluarlan beberpa orang dengan logat sumtera kental. Mereka keluar untuk sekadar merokok karena penat. Sesekali mereka berkomentar tentang organ tunggal yang “son-nya”(sebutan mereka untuk sound system) gak enak. Salah seorang supir bus jurusan medan yang ikut nunggu untuk masuk gratis berkomentar, “coba suru nyanyi mawar bodas. kalo nyanyi itu bisa keliatan enak (bagus.red) atau enggak son-nya”, kata si supir dengan logat batak. (ente bayangin tuh, orang batak tulen ngomong mawar bodas)

Geli juga dengar supir medan tau lagu mawar bodas yang notebene lagu sunda. Kalo tau berarti sering denger. Uniknya di sini, orang batak sering dengar lagu sunda. Hal yang bikin pala saya muter, sebagus apa lagu mawar bodas. Sampe orang batak aja suka, tapi daripada saya muterin kepala mending saya alihkan pembicaraan. Saya coba tanya sama sopir-sopir itu tentang kemungkinan dibuatnya jembatan Jatra, jembatan Jawa-Sumatera, yang membentang di selat sunda yang terkenal dengan arus bawah laut-nya. Selagi bertanya, tiba-tiba sopir travel yang tadi nyalahin rokok langsung menjawab, “gak mungkin. mana mungkin bisa. itu (bikin jembatan) dari zaman soeharto uda direncanin, sampe sekarang gak ada buktinya” kata si Sopir dengan gaya mencibir anggota DPR.

Sebagai mahasiswa saya coba kasih data ilmiah, “tapi, sudah ada tanda tangan MOU anatara gub. banten sama lampung. sekitar 2022 proek bakal berjalan” dg gaya analisis saya meyakinkan si supir.

“tetap aja, Dik. Kalo presiden-nya masih SBY, biar pantat pindah ke muka juga, gak bakal mungkin jadi. Kecuali Gayus yang jadi presiden, baru bisa jadi tu jembatan” kata si sopir yang masih mencibir. Saya lalu membayangakan kalo muka si supir berubah jadi pantat. Iyuh.. jijai cyyyyn….

komentar si sopir ini lalu diamini oeh sopir bus yang minta lagu mawar bodas tadi. kalah lah saya berargumentasi seada-adanya. dari sini saya belajar bahwa anilisis ilmiah tidak terpakai di kehidupan seperti ini. semua berdasarkan LOGIKA, a la mereka.

30 menit berlalu. orang-orang yang nongkrong di depan ruang VIP segera masuk, kecuali saya. bagi saya di ruang VIP saat berada di atas kapal sama dengan sia-sia. apa bedanya sama bioskop. saya lebih memilih duduk di luar memandangi laut yang tak berujung ditemani musik-musik mellow. ini baru naik kapal namanya.

dua jam berlayar, kapal pun hampir sampai di Bakauheni tepat sebelum jam 6. alhasil, saya bisa melihat sunset. Indah sih, tapi pikiran saya tetep penasaran sama mawar bodas. Penasaran saya trus terjawab. Dua hari yang lalu, saya searching di youtube tentang lagu mawar bodas. Keluarlah judul mawar bodas yang dinyanyikan Kang Darso. Kang Darso terkenal dengan julukan “The Phenomenal” di bandung. Setelah saya dengarkan, lagu ini sangat sunda. Cengkok sunda-nya pun sangat kental. memang aransemen musik, yang kalo kata om saya aransemen golek a.k.a koplo, menghentakkan kendang lebih energik sehingga dentuman-dentuman itu begitu terasa. terasanya dentuman musik mawar bodas diikuti dengan hilangnya penasaran saya dengan mawar bodas dan datangnya penasaran baru. penasaran pingin nyanyi lagu itu kalo karaoke. hahaha.

Pensaran???cik dijajal nyanyi mawar bodas. Sapa tau bisa jadi presiden. Hehe

Selamat ber-mawar bodas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s