Saya dan Negeri 5 Menara

Setuju. Negeri 5 Menara memaksa pembacanya memuka lorong waktu menuju masa-masa remaja. Terlbih untuk seorang yang pernah tinggal di lingkungan yang sama, pesantren. Ya, seperti saya ini. Walaupun tidak lama tinggal, memori-memori saat itu masih terekam jernih di pita otak saya.

Saya menjebloskan diri ke lubang dengan kedalaman 12 tahun waktu. Waktu diamana saya benci denngan Subuh hari karena harus bangun memaksa diri ke masjid sambil duduk komat-kamit entah baca apa. Yang penting keliatan lagi zikir.

Teman-teman, tepatnya kakak senior, bisa begitu khusyuk tahajjud menunggu waktu Adzan. Melihat situasu seperti itu, saya tertarik juga solat tahajjud. Tapi namanya ikut-ikutan, ya tetep aja pas sujud gak bangun lagi. Dan sekonyong-konyong gerimis dari botol semprotan buat kuping saya becek. Saya bangun lalu menghayal. Empuknya kasur dirumah, sarapan yang disediakan di atas meja dengan komposisi nyaris sempurna.

Selain subuh, minta ijin pulang adalah hal yang paling saya benci di pesantren. Meminta ijin di pesantren benar-benar sulit. Tidak ada lobi, tawar menawar, dan apapun itu. Kalo ustad bilang tidak, ya tidak. Bukan masalah diberi atau tidaknya izin yang saya benci, tapi kelakuan si ustad itu. Ustad itu lemah gemulai, murah senyum dan sama sekali tidak kesan garang tapi sabdanya tak terbantahkan. Kesal. Ustad cemen tapi tidak bisa dilawan. Berbeda dengan kisa N5M yang garang. Dalam hati, saya lebioh ikhlas dilarang oelh ustad galak daripada dia. Ini tentang harga diri, tidak bisa melawan ustad se-ceble dia. Alhasil, 6 bulan saya mendekam di pesantren.

Selain beberpa masalah di atas, kehidupan pesantren sangat menyenangkan. Selalu ada reward and punishment. Selalu menanatang, menakutkan, semua membuat saya dan teman-teman merasa tertantang untuk menghadapainya. Saya tahu ini tidak nyaman, tapi saya yakin ini membuat saya lebih kuat akhirnya.

Yang paling menyenangkan adalah semangat yang tak pernah padam. Walaupun terlihat kuno, tapi ustad-ustad di pesantren adalah seorang pendidik. Pendidik yang sebenarnya. Mereka percaya bahwa tugasnya tidak hanya menyampaikan ilmu, melainkan juga menjadi motivasi berjalan bagi santri-santrinya. Hanya, feodalisme yang bertengger di tengah-tengah pesantren membuat saya kurang nyaman.

Feodalisme di pesantren bukan seperti penyembah. Feodalisme disana direpresntasikan dalam bentuk ustad-ustad yang “dikesankan” menakutkan. Sehingga santri selalu harus takut jika bertemu sang ustad. Menurut saya ini sudah tidak berlaku, kecuali di Indonesia yang masih sengan bertele-tele dalam setiap hal. Dan menjunjung tinggi harga diri dalam setiap ranah, walaupun  sebatas minta tanda tangan. Buat saya ini metode mengkerdilkan pikiran dna nyali. Di luar sana yang menjunjung tinggi efektif dan effisien, feodalisme tidak lagi digubris. Makanya banyak santri yang kaget saat harus bekerja di dalam perusahaan yang hetic kerjanya, yang sedikit sekali mengenal basa-basi sebagai bentuk penghargaan.

Saya dan Negeri 5 Menara membuat sel-sel otak berubah warna. Mejikuhibiniu. Lalu menuntut diri saya, “pilih salah satu, dan mantap. Seperti Baso memutuskan untuk mengikhlaskan kelulusan, pulang merawat neneknya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s