Analisis (mungkin Wacana) Kritis Cinta Fitri

Tersedak. Kaget. Jumpalitan. Mendengar sinetron cinta Pitri yang akan tamat. Buat saya ini menjadi news of the month dalam ranah jurnlisme infotaintmen. Analisa dangkalnya adalah sinetron ini sudah turun rating. Entah karena kelamaan, atau karena apes, sial. Sial karena stasiun yang mengudarakan sinetron tersebut lekat dengan citra “murahan”. Murahan, dilihat dari budget sinetron yang dikeluarkan amat sangat pelit. Lihat saja sinetron dubbing-dubbing-an itu yang sempurna murahannya dengan efek digital ala tukang setting desain grafis undangan sunatan. Perhatikan, setting, latar, alur cerita, tema, aktris dan actor semua itu-itu saja.

Yah, apapun itu intinya CInfit sebentar lagi pailit. Ada gundah ada juga berkah. Berkah karena sinetron ini, setidaknya, bisa menjadi contoh baik bagi PH yang lain untuk menyelsaikan sinetron dengan khusnul khotimah, alias tidak menggantung. Seperti sinetron serupa, tersannjung. Terlebih buat para suami, tamatnya sinetron ini menjadi kemenangan sendiri karena si istri tidak lagi membandingkan kelakuan suaminya dengan si Farel yang katanya the perfect one (padahal jelas-jelas Farel dalam dunia nyata tidak malu mengambil Fitri dari Aldo yang notabene teman, bahkan seperkerjaan).

Hilangnya sosok Farel-lah yang menjadi kegundahan kemudian. Farel yang perfect menjadi contoh bagi para suami untuk berlaku dan bertindak seperti dia dalam kehidupan rumah tangga. Tentunya ini berlaku bagi para suami yang senang menonton tv dan mudah dipengaruhi oleh tv. Salah satunya, kakak ipar saya. Semenjak rajin mengonsumsi CInfit setiap malam, ada yang berubah dari cara hidup berumah tangganya. Contoh kecil adalah bagaimana cara dia mengeritik makanan dan memanjakan anak. Saat mengeritik makanan, kaka ipar saya benar-benar bijak.

“besok jangan pedes-pedes ya, Mi” ujarnya, dengan nada yang mendayu diujung (buat saya itu intonasi seorang yang sedang merayu)

Lain lagi saat ngemong anak. Berkali-kali ciuman didaratkan di pipi anaknya yang cewek maupun cowok. Seperti Farel menciumi anaknya. Yah, walopn terkesan nggilani dan aji mumpung, sinetron ini punya dampak yang cukup diperhitungkan, terutama bagi suami.

Ada analisa lain tentang tamatnya mega sintron ini. Ingat mengapa kalian atau kita suka dengan Cinfit? Selain konflik yang ditimbulkan, tentu peran-peran dan cerita yang dimainkan menjadi representasi kehidupan yang ideal. Dimulai dari Fitri.

Fitri adalah tokoh sentral dalam sinetron. Fitri menjadi contoh bernapas tentang mulianya seorang wanita yang penyabar. Fitri dalam sinetron ini dicitrakan sebagai wanita penyabar, selalu mengalah, religious, saying suami, romantic, dll. Yang paling menonjol menurut saya adalah sikap nerimonya. Saya yakin dibelahan bumi manapun orang selalu bingung, menuntut atau nerimo. Nah, di sinetron ini terjwab sudah semua. Fitri yang cenderung mengalah/nerimo selalu mendapat keberuntungan di akhirnya. Contoh ini bisa dibilang “perempuan banget”. Perempuan, dalam wacana orang Indonesia, yang selalu dilekatkan dengan nrimo serasa diterpa angin segar. Sinetron ini seolah mengatakan kepada seluruh perempuan, ” jangan takut dengan nrimo. Nih, buktinya Fitri selalu beruntung di akhir dengan nrimo-nya” Visual-visual ini, walaupun skenario, tapi sangat menghibur hati orang-orang yang sring nrimo.

Di sisi lain, Fitri di beberapa sekuel menunjukan perjuangan dan perlawanannya terhadap penindasan yang dilakukan Misca, tapi apa yang dilakukan Fitri tetap terlihat anggun karena dia lakukan demi sbeuah kebenaran dan ikhlas. Di sini Fitri kemabali membuka mata para perempuan bahwa perempuan pun bisa memilih berjuang. Asal niatnya baik, benar dan ikhlas niscaya kebahagian akan tetap menjadi buntut.

Over all, sinetron ini mengacak-nagacak otak kita buat sadar bahwa ada pilihan dalam hidup yang bebas diambil dengan konsekuensinya sendiri-sendiri. Asal ikhlas dan untuk kebenaran, pasti khasilnya akan manis, apapun pilihannya. Sangat berarti buat wanita yang katanya lebih sering bingung bertindak untuk belajar mengambil keputusan. Hehe. Nah, ini yang kemudian hilang di cinta Fitri dalam sekuel terakhir. Bergesernya sosok fitri, bahkan hilangnya Fitri yang berubah jadi supir membuat penonton kecewa. Wonder Womennya hilang. Tidak ada lagi visual-visual yang memeprlihatkan kekuatan nerimo. Akibatnya rating turun. Yang penonton inginkan adalah Fitri yang dulu. Makanya tidak heran jika saat episode-episode terkahir seperti iini ratingnya naik kembali. Selain karena emang mau habis, bikin orang penasaran, tapi juga karena hadirnya sosok Fitri yang dahulu. Wonder Woman yang selalu meperlihatkan efek nrimo. Tapi jangan takut, sosok sempurna wanita Indonesia pasti akan kembali di sinetron, pemain, dan channel yang berbeda.

Selamat menunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s