Insiatif milik siapa?

Sebuah drama kehidupan saya saksikan sendiri dalam kehidupan rumah tangga. Seorang istri yang ingin sekali keluar rumah untuk jalan-jalan. Bukan untuk dia melainkan untuk kedua buah hatinya yang sudah mulai terlihat stress tingkat tinggi karena terkurung dalam rumah dalam hitungan hampir satu minggu. Maklumlah, tinggal di perumahan membuat gaya hidup menjadi sangat nafsi-nafsi bahkan bermain pun nafsi-nafsi.

Entah malas atau apapun itu alasannya sang suami nampaknya tidak cepat menggubris ajakan untuk jalan-jalan. Dan saya juga bingung kenapa si istri tidak bilang terus terang aja, to the point, mengajak jalan suaminya. Tidak perlu berbasa-basi seperti ini,

“pah, hari ini gak kemana-mana kan? Jalan yuk”

“jalan-jalan ke mana?” Kata si Papah.

“ya kemana aja yang penting keluar rumah”

Entah kenapa ya sering sekali wanita seperti itu, mau-mau tapi malu.

Saya tidak menyalahkan pihak istri dalam hal ini, hanya kalau saja si istri bilang terus terang dan to the point saya rasa masalah akan segera kelar.

Selidik punya selidik ternyata si istri ini menginginkan si suami berinisiatif. Simpelnya: “gw kan uda ngasih umpan, masak gua juga yang kudu mancing” batin si istri.

Tapi saya sebagai laki-laki juga merasa perempuan juga inisiatif dong. Jangan malu-malu tapi mau segala. “gw kan yang bawa mobil, masa gw juga yang kudu nentuin tempatnya”

Walhasil ini-ini terus yang jadi perdebatan dalam rumah tangga. Debat tak ada hasil.

Kemudian saya coba menelaah tentang status inisiatif ini, milik siapakah sebenarnya.

Inisiatif milik laki-laki.

Menurut saya, perempuan melamar laki-laki itu aneh. Laki-lakilah yang bekewajiban  melamar perempuan. Itu dalil pertama saya kenapa inisiatif punya laki-laki. Sebab kalau tidak seperti itu lelaki Cuma bisa mengimpikan wanita idamanyya tanpa punya ikatan.

Lalu, bayangkan suami istri yang punya anak dalam keadaan netral alias tidak ada yang mencari uang. Kira-kira secara naluri lebih pantas mana yang harus memulai mencari uang. Laki-laki kan? Lalu bayangkan jika kemudian yang berinisiatif mencari uang si istri. Rasanya suaminya bisa dipakaikan rok dan diberi sapu.

Menurut saya sudah menjadi kodrat bahwa lelakilah yang seharusnya memiliki inisiatif. Lelaki wajib ada didepan dalam segala hal. Apaplagi dalam keadaan perdebatan atau stuck. Disinilah laki-laki harus memiliki peran untuk berinisiatif mengambil keputusan. Jika tidak, dimana letak kelaki-lakiannya??.

Makany tidak heran jika kemudian banyak wanita yang klepek-klpek sama laki-laki yang bisa mengambil keputusan dalam sebuah perdebatan atau kebingungan. Dari sinilah kemudian si wanita akan merasakan aman. Aman dari rasa bingung karena wanita itu katanya perasa jadi sering bingung. Dan dengan PD-nya saya memperjelas inilah tafsir dari dalil bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Bisa saja sebenarnya lelaki berdalih bahwa mereka telah mencari uang dan capek memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Tapi jika seperti itu dimana perbedaan antara suami dan perempuan. Mereka berdua sama-sama kerja. Bedanya yang satu menghasilkan uang (suami) yang satu menghasilkan  anak yang tumbuh dengan baik(istri). Jika ini keadaan nya maka aneh meunurut saya. Tapi jika kemudian suami mencari uang dan juga mengelola rumah tangga, ini baru normal. Karena dengan begini beban suami menjadi double. Hal ini sesuai kodrat laki-laki. Masak yang punya tulang rusuk lebih banyak beban nya sama? Gak fear kan?

Back to topik. Walhasil, akhirnya si suami tertidur menunggu mobil yang tak kunjung datang karena dipinjam oleh seorang saudara. Mobil datang dan si istri sudah capek untuk berdebat. Akhirnya si istri pergi bersama dua anakanya menggunakan motor ke rel kereta. Bukan mau bunuh diri, tapi mau mengajak anak-anaknya melihat kereta api. Dan, si suami masih tidur terlelap di sore hari.  Kira-kira pantas gak menurut Anda?

Yup. Terkadang bukan kemewahan tempat atau jauhnya tempat yang dikunjungi. Tetapi waktu yang bisa diberikan  itulah sumber kebahagiaan. Tidak perlu ke Dufan atau Timezone. Ajak anak-anak ke bandara dan stasiun. Melihat secara nyata benda yang anak-anak hanya bisa lihat lewat poster atau tivi. Sederahanakan? T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s