Lingkunganmu harimaumu

Bekerja dan usaha adalah sebuah pilihan. Pilihan yang sebenarnya tidak sulit karena keduanya baik. Namun kemudian menjadi sulit karena lingkungan kita (keluarga dan teman) sangat mempengaruhi pilihan tersebut.

Buat mereka yang hidup dilingkungan pekerja yang bapak-ibu, kakak, saudara sepupu, teman dan lainnya adalah seorang pekerja, maka saat Anda dan saya bekerja adalah sebuah hal yang membanggakan. Bagi mereka, pergi pagi pulang malam adalah hal yang biasa karena memang lingkungan mereka ritme hidupnya seperti itu. Bagi mereka kerja adalah payung besar yang memberi kemanan finansial karena jelas setiap bulan sudah pasti mendapatkan gaji. Dalam lingkungan seperti ini menjadi pedagang adalah pilihan yang kurang tepat karena tidak ada kepastian. Hari ini untung besok belum tentu. Dan yang paling kentara adalah kurun waktu yang dibutuhkan bagi pedagang untuk membuktikan sukses.

Seorang pekerja dalam waktu 3 bulan saja mereka sudah bisa menunjukan bahwa mereka dapat hidup mandiri dengan berbagai kecukupan. Orang yang bekerja cukup membutuhkan waktu dalam hitungan bulan untuk membeli sebuah motor karena dia bisa mematiskan bulan depan ada uang lagi yang akan dia terima. Sedangkan pengusaha tidak bisa melakukan apa-apa karena usaha yang dia rintis membutuhkan modal. Pengusaha berpikir daripada membeli sebuah motor lebih baik dibuat modal. Modal otomatis dapat menambah keuntungan. Jikapun pengusaha membeli motor pasti untuk memenuhi kebutuhan dagangnya. Makanya pengusaha susah sekali membuktikan kesuksesannya. Namun yang terlupakan adalah bahwa yang memberi gaji kepada karyawan adalah pengusaha. Sebesar-sebesarnya gaji yang kita terima tidak lebih besar dari keuntungan pemilik usaha. Lalu bagaimana jika Anda dan Saya berada di lingkungan pengusaha?

Jika Anda dan saya berada di lingkungan pengusaha, bangkrut, rugi, minjem duit, cari modal, adalah hal yang biasa. Buat orang di lingkungan seperti ini bekerja adalah suati keanehan. Bagaimana tidak, seorang pengusaha dapat mengatur sendiri ritme hidupnya. Mereka punya anak buah yang bisa menngerjakan tugas-tugas mereka. Seorang pengusaha dapat libur seenak udelnya, tidak percaya? Jika Anda ke Jogja atau manapun tempat Anda tinggal, seorang pengusaha pecel lele bisa tutup semaunya. Dan saat tutup, tidak ada orang yang marah dan esoknya orang masih akan berbelanja di tempat itu. Jika  Anda seorang pekerja, bolos satu hari saja keluar SP-1. Dan yang perlu Anda ingat adalah pengusahalah yang mengatur libur tidaknya seorang pekerja.

Di saat Anda berada di lingkungan pengusaha, pergi pagi pulang sore adalah hal yang sangat aneh dan menyiksa diri. Lebih aneh lagi karena kita menerima ketidakberkembangan diri dan penghasilan. Tidak mungkin bagi seorang pekerja dapat menghasilkan begitu banyakn uang tapi bagi pengusaha hal itu sangat mungkin. Mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat banyak dalam kurun waktu singkat karena rejeki. Seorang pengusaha grafik finansialnya sangat dinamis dan seorang pekerja stagnan.

Nah, tidak heran jika saya dan Anda kemudian tidak betah bekerja karena ritmenya itu-itu saja.  Yang menjadi kendala adalah seorang pengusaha memerlukan waktu 3 tahun untuk mendapatkan keuntungan murni. Di saat seorang pengusaha terseok-seok dalam waktu tiga tahun pada saat yang sama seorang pekerja telah dapat melunasi motornya.

Namun Anda perlu tahu bahwa berdagang adalah addict apalagi jika perkembangannya pesat. Seorang pedagang lebih memilih menjadikan keuntungannya sebagai modal ketimbang dinikmati untuk bersenang-senang. Jadi, seolah-olah keuntungan terus saja kurang tidak pernah cukup. Mereka lebih senang mengembangkan usaha agar keuntungan yang didapat semakin banyak. Dan gara-gara pengusahan macam inilah kemudian kita mendapat pekerjaan karena kemudian semakin besar tingkat usahanya makin besar juga kebutuhan akan karyawannya. Yah inilah pengusaha, seperti lilin, menghidupi banyak orang namun dia terkorbankan. Memang bukan jiwa atau nyawa, tapi pikiran, waktu dan ego karena dia bertanggung jawab memberikan gaji kepada pekerjanya menurut kontrak. Tidak peduli untung atau rugi hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s