menyapa almamater

Suasana ruang itu banyak orang tapi senyap. Mereka bisa bicara tapi malas, hanya berbisik. Bisikan-bisikan itu terdengar telinga saya. Bisikan yang mencoba menelaah kalimat-kalimat dalam buku dengan orang disebelahnya.

Bisikan itu terdengat berat namun sejuk di telinga saya. Karena bisikan itu keluar dari manusia penuh harap, penuh pengharapan, dan penuh warna. Manusia yang memiliki orientasi.

Iri saya melihat mereka. Iri karena orientasi mereka masih segar dan selalu dipegang teguh. Iri ini cukup menampar saya, menyadarkan bahwa saya pun harus masih seperti mereka. Mnghidangkan sepiring semangat untuk saya bawa negeri para pemalas, tempat para londo berpelesir.

Tapi entahlah, saya sempat berpikir kalo negeri ini memang dikutuk untuk orang seperti saya. Masuk ke negeri ini, seperti masuk ke ruangan penuh raja, saya jadi tidak ada apa-apanya. Apapun yang saya bawa dari manapun itu hanya menjadi remehan, gak ada artinya. Tiba-tiba saja semua hilang, termasuk hidangan dalam piring tadi. Lebih dikutuk lagi karena bahkan di negeri ini, angin dan keadaan cuaca tidak pernah mau bersahabat.

Saya merindu suasana negeri di timur sana yang bahkan sendiripun saya masih rindu. Bersyukur dan alih-alih latihan tinggal di luar negeri yang bisa membuat saya bertahan di sini.  Selain itu, mencoba bertahan dan menang di luar zona nyaman membuat saya ingin dan harus segera menaklukan negeri ini. Alhasil saya mendapat kesimpulan bahwa hidup di negeri ini butuh ambisi, bukan semangat.

terima kasih Rabb, Engkau abwa saya melewati begitu banyak keadaan yang buat saya makin kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s