a letter for Cirossratus Port

Kapal yang berlabuh sekarang menjauh. Kemarin sauhnya masih terkait di pelabuhan tapi sekarang sauh itu tampaknya perlahan mulai lepas kaitnya. Kapal mulai menjauh perlahan, pasti dan tanpa suara. Ya tanpa suara, karena kapal sudah tidak punya mesin lagi, tidak ada kekuatan untuk berteriak karena suaranya selalu kalah dengan kemesraan pelabuhan dengan kapal lain.

Menjauh dan menemukan pelabuhan lain. Kapal sudah mendekat, sauh telah terkait, kapal hampir sandar, tapi riak air tiba-tiba berubah. Memberi visual lalu, saat kapal bersandar di pelabuahn yang dulu.

Kapal perlahan mulai menjauh walau sauh masih terkait di pelabuhan. Sama seperti waktu itu, bedanya pelabuhan ini seperti memanggil diam-diam. Pelabuhan bermuka muram melihat kapalnya menjauh. Dan sauh itu masih di sana. Terikat dan terus dipegangi. Dan ternyata ini rasanya lebih gila dari yang kemarin.

Sudahlah, ada pelabuhan lain yang bisa disandarkan. Jika banyak kapal mencari pelabuhan yang baik namun semakin baik pelabuhan itu semakin kapal tidak bisa bersandar. Ah.. biarlah pelabuhan dapat kapal yang lebih baik. Kapal ini kuat, tak perlu bahan bakar, bisa terombang-ambing sendiri di tengah laut dalam jangka waktu yang lama. Sampai nanti saat nahkodanya mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s