Angkringan; pelopor open kitchen dan open bar

Sekelebat suasana rumah merasuki tubuh yang sedang dilanda sindrom mager(malas bergerak). Ditambah hujan yang ringan namun awet, membuat saya semakin rindu kehangatan rumah. Dalamn jarak yang tidak begitu jauh, hanya tiga jam dari kota ini, atmosfer rumah benar-benar merasuki tubuh dan baru kali ini saya rasa berat untuk tidak mengikuti keinginan pulang.

Berat, mungkin karena di sini saya tidak punya rumah ke-2 dan ke-3. Dulu, beberapa tahun yang lalu saat rindu rumah saya harus menempuih perjalanan selama 14 jam untuk pulang dengan bus, tapi ada rumah ke-2 yang bisa menggantikan kerinduan itu. Jadi saya tidak harus menempuh perjalanan selama 14 jam.

Rumah ke-2 saya adalah sesosok mahluk yang selalu siap saat tubuh mulai ambruk dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Rumah ke-2 siap membelikan saya obat, soto, sate dan apapun itu yang bisa membuat segera bangkit. Tahu kan rumah ke-2 itu siapa. Namun, sayang rumah ke-2 kadang rindu rumah. Rumahnya hanya satu jam ditempuh dari kota itu. Jadi, kadang saya harus kehilangan rumah ke-2 saat dia mudik. Tapu ada rumah ke-3, yang siap menemani saya kapanpun dan pada saat apapun. Walaupun kadang dia malas, tutup. Rumah ke-3 itu adalah angkringan.

Di sini, di kota yang senang sekali memasang ac dengan suhu rendah, saya tidak bisa memnukan rumah ke-3. Saya beranga-angan jika ada rumah ke-3 saya mungkin tidak begini berat menghadapi rasa ini.

Angkringan, sebutan untuk gerobak berikut penjualnya yang menjajakan nasi kucing. Nasi kucing adalah sejumput nasi yang bisa dihiasi dengan beragam topping yang dibungkus pakai daun. Ada banyak topping yang biasa ditaburi di atas nasi kucing ini, tapi yang paling favorit adalah sambel teri dan oseng tempe. Nama nasi kucing diambil dari jumlah nasi yang sedikit seperti nasi untuk diberikan untuk kucing. Satu hal lagi yang unik dan identik dengan angringan adalah tiga ceret/ketel yang dipanaskan diatas bara arang.

Angkringan tidak beda dengan warung, resaturant, atau cafe lain,  duduk pesan makan. Dari sisi fungsi memang tidak beda. Namun dari segi konsep, angkringan luar biasa. Angkringan yang menurut saya produk barbar yang memilki konsep bisnis  modern dan yang paling saya suka adalah bisnis yang peka sosial.

Saat makan nasi kucing di Angkringan, kita dengan leluasa melihat si penjual dan dengan leluasa juga mengobrol dengan si penjual. Hal ini karena angkringan bersifat terbuka atau bahasa kerennaya open kitchen. Kita bisa melihat si penjual melakukan aktivitasnya, bagaimana si penjual meramu minuman dan sebagainya. Selain open kitchen, angkringan juga berkonsep open bar, dimana pelanggan dapat ikut dapat duduk bersama si penjual yang  juga merangkap sebagai bartender.

Bagi siapapun, berinteraksi adalah makanan kedua setelah nasi. Dengan berinteraksi kita mendapatkan banyak informasi. Informasi adalah modal untuk kembali berinteraksi lagi. Interaksi membuat kita dikenal dan eksis. Satu lagi kehebatan infromasi, informasi adalah yang menentukan pintar atau tidaknya seseorang. Seseorang yang pintar adalah orang yang pertama kali tahu.

Selain itu, interaksi juga akan menempa diri menjadi bijak. Banyak kearifan lokal yang didapat dari interaksi di angkringan. Pelanggan angkringan beragam,  dari mulai kuli sampai mahasiswa seperti saya. Masing-masing pelanggan punya cerita sendiri tentang hidupnya yang dibagi dengan si penjual. Cerita-cerita ini lah yang kemudian menambah khasanah budaya berpikir kita. Satu hal yang paling antik dari angkringan, saiapa pun dengan pangkat apapun jika sudah di angkringan seolah-olah tidak ada lagi batas dan jarak. Semua sama di angkringan.

Inilah kenapa saya menyebut angkringan adalah rumah ke-3. Mencoba menarik hikmah dari keluh yang didiskusikan dan kesah yang dibagikan. Obrolan malam hari bersama temaram lampu cempor dan alunan merdu suara sinden menembang lagu jawa dari stasiun radio lokal. Berbagi tawa saat otak buntu memikirkan tugas lewat candaan garing sipenjual yang terinspirasi dari keluh kesah kita. Dan motivasi lewat sebuah doa klasik buat seorang mahasiswa “ sing sareh mas(yang sabar mas).. ta’ doain biar cepet lulus dan cepet kerja”. Kalo sudah begini, ke angkringan tidak ada bedanya dengan ke psikolog. Dapat konsultasi dan motivasi yang dibayar dengan membeli sate usu dan jahe susu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s