Mejik itu ternyata efek Psikologis

Sering kan kita lihat beberapa alat musik trdisional yang dimandikan karen dinilai ada penghuninya. Alat musik ini dipercaya ada penghuninya karena bunyi-bunyi yang dikeluarkan dapat mengeluarkan efek tertentu bagi yang mendengar. Selain itu, kita juga sering mendengar sebuah harmoni dari alat musik tradisional, sebut saja gamelan, yang hanya dilantunkan saat mengiringi pengantin masuk ke pelaminan. Jadi ada semacam harmoni-harmoni tertentu dengan peruntukan tertentu juga. Misal jika diaminkan bunyi-buniyan ini maka pengantin akan merasa demikina. Begitu lah kira-kira.

Usut punya usut jika ditelaah lebih dalam ternyata ini bukanlah magic, tapi efek psikologis. Saya salut dengan orang-orang jaman dahulu karena bisa kepikiran membuat harmoni yang akan mengeluarkan efek-efek tertentu yang saat ini dilakukan oleh banyak DJ. Menurut seorang teman, DJ Ippi, bahwa ada frekunesi-frekuensi tertentu yang dapat mempengaruhi bagian-bagian otak sehingga tidak heran ada aransement musik yang dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran diri. Masih menurut Ippi, contoh sederhananya saja adalah saat kita bergoyang saat mendengar lagu dangdut dan melamun saat denger lagu mellow.  Menurut Ippi itu adalah efek musik yang didengarkan kuping, lalu lari ke otak, setelah dikelola otak kemudia didistribusikan ke seluruh anggota badan. Jadilah goyang dangdut. Nah ini menandkan bahwa bukan mejik sebenarnya melainkan sebuah respon yang keluarkan atas sebuah stimulus dari alat musik atau sebuah harmoni.

Belum lama ini saya menonton acara Festival Bambu Nusantara 4. Sebuah pagelaran tahunan yang diselenggarakan demi melestarikan bambu sebagai bahan yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia dalam memenuh kebutuhannya. Dari mulai kebutuhan rumah tangga sampai kebutuhan hiburan. Salah satu impelmentasi pemenuhan kebutuhan hiburan adalah dengan membuat alat musik dari bambu. Dalam Festival yang direncanakan menjadi festival internansional sekelas Java Jazz ini berusaha menduniakan alat musik bambu, seperti angklung, arumba, suling dll. Sebagai suatu alat musik yang universal yang dapat diterima dan dikolaborasikan dengan berbagai genre musik. Selain itu ini juga sebagai cara untuk melestarikan kebudayaan yang menurut saya sangat luhur.

Keluhuran budaya ini terlihat saat saya melihat pertunjukan Samba Sunda. Empat  aransemen yang disuguhkan Samba Sunda menciptakan berbagai efek yang berbeda. Bisa membuat merinding, ingin bergoyang dan satu lagi yang lebih lucu, pengen merayakan sebuah pernikahan. Aransemen yang dibuat Samba Sunda membuat kita menerawang seolah berada di sbeuah perhelatan pernikahan. Yang jadi titik fokus saya bukan hanya pada efek yang dikeluarkan namun saya menerawang jauh sebelum Indonesia merdeka saat raja-raja masih bercokol di tanah jawa. Timbul berbagai pertanyaan, siapa yang pertama kali menciptakan suling, angklung, gending, gamelan dan alat musik tradisional lain. Lalu, bagaimana cara mereka melakukan harmoni dari satu alat musik ke alat musik lain. Dan bagaimana orang-orang ini mengaransemen musik yang dapat megeluarkan bermacam efek. Bukan kah ini sesuatu yang luhur. Dengan teknologi yang barbar mereka dapat membuat sebuah harmoni dan dapat menciptakan efek tertentu bahkan sebelum ada penelitan psikologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s