salah mendidik, salah memetik

Pendidikan yang tinggi tidak menjamin manusia akan berlaku adil. Banyak orang yang gembar-gembor tentang bagaimana pentingnya pendidikan, tapi jika ditelusuri lebih dalam saat ini pendidikan tinggi tidak lain hanya sebagai sebuah syarat untuk menyambung hidup. Seseorang yang berkehendak memiliki kehidupan yang baik, terpenuhi semua kebutuhannya harus bekerja. Sedang untuk memperoleh kerja diperlukan kasta pendidikan, lulusan D1, D3 atau S1. Semakin tinggi kasta pendidikan maka akan semakin tinggi juga pendapatan yang akan diperoleh seseorang. Seorang consultant dari kasta D3 akan memperoleh gaji yang tidak sama dengan kasta S1, walaupun pekerjaan yang diemban sama. Jika seorang tersbut ingin menmabah gajinya maka harus menempuh S1 dahulu. Lalu seseorang tukang sapu yang memiliki kefasihan bahasa asing dan disinyalir mampu bekerja sebagai resesionist harus menempuh ssalah satu kasta pendidikan agar dapat menempati kursi tepat dibelakang meja penerimaan tamu hotel.

Saat ini pendidikan di Indonesia memang sudah jauh lebih baik ketimbang dahulu. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya sekolah yang berstandart internasional.  Namun sayangya ini tidak merata di semua tempat karena kenyataannya masih banyak sekolah yang atapnya bocor dan kekurangan lainnya. Tentu peningkatan mutu sekolah di Indonesia memiliki konsekuensi tersendiri. Hal yang paling terasa adalah pada biaya pendidikan. Bagaimana tidak, untuk memasuki sebuah Universitas negeri melalui jalur ujian mandiri, seorang calon mahasiswa diwajibkan membayr sumbangan sebesar 30 juta kontan, tidak bisa dicicil. Biaya yang melambung tinggi ini membuat manusia harus memiliki sebuah syarat lagi untuk mengenyam pendidikan tinggi yakni harus memiliki uang. Situasi ini membuat sebuah lingkaran setan yang terkutuk. Seorang yang ingin menerima pekerjaan yang layak harus mengenyam pendidikan tinggi, untuk mengenyam pendidikan tinggi diperlukan uang, uang berasal dari hasil bekerja. Dari sinilah kemudian muncul rumus orang miskin dilarang sekolah.

Pendidikan yang tinggi pun tidak akan menjamin bahwa seseorang akan lebih baik. Kesemrawutan cara mengajar dan belajar membuat pendidikan menjadi hal yang paling mendukung terhadap ketidakpastian ini. Dalam acara sebuah bedah buku seorang ahli otak-atik otak mengatakan bahwa yang selama ini kita dapatkan di sekolah semua adalah konten/materi  yang dalam bahasa inggris disebut what to learn. Kita tidak pernah sama sekali diajarkan bagaimana cara mempelajari isi tersebut yang disbeut how to learn. Jadi, dari awal sekolah dasar hingga universitas kita hanya dijejali materi tanpa diberitahu bagaimana cara untuk menguasai materi tersebut. Kita hanya diperintah untuk menghapal ratusan kosa kata bahasa inggris tanpa diberitahu bagaimana cara menghapalnya dengan benar sehingga tidak mudah lupa. Sederhananya kita hanya diberi mobil tanpa diberiatahu bagaimana cara menjalankan mobil itu. Untuk itu saat ini yang paling dibutuhkan adalah learn how to learn. Yaitu belajar bagaimana cara belajar yang efektif dan efisien. Sehingga nantinya jika seorang manusia disuguhi konten apapun mereka akan siap menerima konten itu karena sudah mengerti bagaimana cara memperlajari konten/materi.

Kurangnya pengetahuan menganai belajar cara belajar akan berakibat jelek kedepannya. Seorang menjadi lebih terbiasa memerintah dan diperintah daripada menciptakan dan mentaati sebuah aturan/sistem. Nah, kesenangan memerintah dan diperintah akan menimbulkan kasta, kesuksesan seseorang dititikberatkan pada kecakapan orang tersebut sedangkan kebiasaan menciptakan dan mentaati sistem akan menimbulkan team work/ gotong royong sehingga kesuksesan tergantung daripada kecakapan kerjasama antar individu.

Masalah pendidikan yang tidak menjamin kebaikan manusia tidak hanya dialami di Indonesia, begitu juga negara lainnya. Seorang dosen melemparkan sebuah pernyataan bahwa tingkat pedidikan dan ekonomi yang tinggi tidak menjamin seseorang akan menjadi lebih baik. Setujukah jika Israel dipimpin oleh orang dnegan orang denga pendidikan tinggi dan dengan perekonomian negara yang stabil? Jika setuju berarti Anda juga setuju dengan pernyataan di atas. Israel dengan pemimpin yang berpendidikan tinggi dan perkenomian yang stabil masih tetap melakukan usaha pemusnahan suatu etnis, yakni Palestina. Hal ini membuat kita berpikir kembali apa benar bahwa pendidikan yang tinggi dan keadaan ekonomi yang makmur menjamin seseorang untuk menjadi lebih baik. Mungkin ini dikarenakan oleh pendidikan sakarang yang lebih menitikberatkan pada how to be a smart and genius guy bukan how to be a good guy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s