media massa, hancurkan apapun sekali pukul

Semua orang kenal media massa apapun bentuknya, cetak, elektronik atau pun inteternet. Media adalah lokomotif untuk membawa gerbong berisi berita. Sedang masinis yang bertugas adalah pers yang akan membawa berita-berita tersebut. Tujuan kereta ini berjalan bergantung kepada si pemilik kereta. Si pemilik membangun rel-rel yang akan dilewati kereta. Makanya tidak heran arah sebuah media ditentukan oleh si pemilik sebagai bentuk interdependensi antara keduanya. Untuk itu timbul perntanyaan apakah ada media yang benar-benar independen yang terlepas dari kepentingan si pemilik. Semua berharap pemilik media adalah seorang yang bijak dan mengutamnakan kebenaran serta kebajikan. Namun apa jadinya jika pemilik media adalah seorang yang ingin memuluskan niat-niatnya. Salah satunya adalah niat berdagang.

Model Jarum Suntik (Hypodermic Needle) adalah sebuah teori yang beranggapan bahwa media massa ibarat sebuah jarum suntik yang bersisi cairan dalam bentuk ide dan gagasan. Ide dan gagasan kemudian disuntikan kepada masyrakaat secara massal. Cairan yang disuntikan kemudian direspon oleh masyarkat (mass audience) dalam berbagai cara dan bentuk, spontan dan cepat. Seperti jarum suntik. Obat yang diberikan dengan cara dijeksi lebih cepat bereaksi walaupun obat yang diberikan dair satu sumber tapi menyebar kemana-mana dan mempengaruhi berbagai hal. Teori ini juga tidak luput dari sanggahan. Teori jarum Hipodermik ini yang bernaggapan bahwa media massa adalah “all Powerfull” disanggah dengan pendapat bahwa media memiliki delayed efek (efek yang tertunda). Manusia memiliki fungsi gate keeper atau filter yang akan mengolah sebuah rangasangan sebelum menjadi respon tergantung pada keadaan masyarakat, baik struktur sosial, kedaan psikologis dan lain-lain. Namun yang menjadi fokus adalah media dapat menyuntikan informasi kepada masyarakat hanya dengan sekali pukul. Media yang memiliki kemungkinan ini adalah media dalam bentuk elektronik, baik tv atau radio. Sebuah acara di televisi ditonton oleh jutaan orang. Satu umpan tapi banyak yang menyambar.

Media yang sangat powerfull ini dapat digunakan siapapun dalam rangka memuluskan tujuannya. Bagaimana koin Prita begitu booming, koin untuk Balqis, Cicak vs Buaya, dll adalah tanda bagaimana kekuatan sebuah media. Memiliki satu media sama saja memiliki sepersekian persen penduduk Indonesia. Media tidak bedanya sebuah pisau. Bemanfaat atau tidaknya sebuah pisau tergantung si pemilik. Pemilik media yang menetukan kemana arah berjalannya media dapat melakukan apapun lewat media tersebut. Apalagi jika media yang dimiliki tidak hanya satu. Sudah punya stasiun tv, radio masih juga membuat koran. Satu tv saja sudah sangat powerfull apalagi ditambah dengan yang lain. Hal ini berbahaya, menurut seorang tokoh pers, Amir Efendi Siregar, jika dibiarkan seorang memiliki begitu banyak media maka demokrasi akan terkungkung. Pasalnya hal ini memudahkan seseorang yang akan naik menajdi presiden. Mudah saja cukup memgang salah satu pemilik media berarti dia telah memgang jutaan orang Indonesia dari berbagai lini. Tapi ada hal yang lebih berbahaya jika kekuatan media ini dipakai si pemilik untuk menghancurkan usaha orang lain.

Kepemilikan berbagai bentuk media oleh satu orang akan merupakan salah satu bentuk monopoli yang akan berujung pada monopoli-monopoli lain. Seorang yang memiliki media yang bervariasi telah memonopolis sebuah usaha. Hasil dari monopoli ini adalah monopoli frekuensi. Sebuah stasiun tv yang memproduksi siaran di Jakarta dapat menyiarkan hasilnya sampai Aceh bahkan Papua. Hal ini membuat masyarkat Indonesia lebih mengetahui informasi dari Jakarta ketimbang informasi di daerahnya. Nah, efek dari monopoli frekuensi adalah monopoli audiens/pemirsa. Jutaan orang Indonesia disedot perhatiannya oleh stasiun-stasiun tv yang ada di Jakarta. Lebih lagi jika beberapa stasiun tv dimiliki oleh satu orang. Bebrapa kali pencet remot dan beberapa kali juga kita bertemu dengan stasiun tv yang berbeda namun dimiliki oleh satu orang.

Kepemilikan stasiun tv lebih dari satu juga berbahaya bagi pelaku media lain. Bagaimana tidak, seorang yang memiliki tiga stasiun tv akan dengan mudah meng-counter acara-acara denga rating tinggi di stasiun tv lain. Seseorang memiliki stasiun tv A, B dan C. Dalam jam yang sama stasiun D, E dan F yang dimiliki berlainan orang tv memiliki acara unggulan masing-masing. Nah, untuk mematikan stasiun tv D, E dan F. Pemilik tiga stasiun tv akan mendelegasikan stasiun tv A untuk menggempur acara di tv D, tv B menggempur tv E, dan tv C menggempur tv F. Jika sudah seperti ini bagaimana stasiun-stasiun tv lain adapat bertahan hidup.

Berjalannya hidup sebuah media apapun bentuknya bergantung pada pendapatan. Saat ini media adalah sebuah lembaga komersil yang juga membutuhkan keuntungan bagi si pemilik. Untuk itu media saat ini menjadi sebuah institusi komersil dengan berita sebagai koditas dagangnya. Seorang yang memiliki sebuah media sama dengan memiliki pintu kemana saja. Untuk itu mudah bagi seorang pemilik media untuk melebarkan sayap usahanya. Cukup ciptakan isu yang tidak baik tenatang sebuah perusahaan. Edukasi terus menerus masyarakat tentang cacat sebuah perusahaan sampai masyarkat kehilngan kepercayaan kepada perusahaan tersebut dan pada akhirnya mati dengan sendirinya.  Setelah perusahaan yang diisukan hampir punah segeralah si pemilik membangun perusahaan yang sama dengan yang hampir punah tersebut kemudian edukasi kepada masyakarat mengani kelebihan perusahaan baru ini maka sedikit demi sedikit keberhasilan mebunuh “kebun” tetangga akan nampak keberhasilannya.

Contoh mudahnya, jika saya pemilik media yang menemukan isu tentang kebobrokan sebuah produsen tepung terigu, maka akan saya blow up terus isu tersebut agar masyarakat hilang kepercayaan. Setelah kepercayaan masyarakat hilang saya lalu membangun pabrik tepung terigu yang target market-nya adalah masyarakat yang hilang kepercayaan terhadap tepung terigu yang bermasalah tersebut. Inilah bahayanya jika sebuah media dimiliki oleh seorang pebisnis yang money oriented dan memiliki hasrat ekspansi bisnis yang besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s