wanita jawa itu nyai ontosoroh

Hasrat  menulis saya begitu besar ditambah ide-ide segar yang tidak terumbar tapi sayang kemalasan kadang menghajar. Akhirnya, tak satu tulisan pun yang terpapar. Tapi harus balas dendam, harus menulis apapun itu. Nah, ketemulah satu tulisan iseng bermuara dari sebuah buku Bumi Manusia (setelah sekian lama akhirnya baca juga buku ini, masih ejaan jadul lagi) karya Paramoedya.

Tersebut nama Nyai Ontosoroh, seorang golongan Pribumi yang disunting oleh Herman Mellema sebagai gundik (saya sih gak tau gundik itu apa, tapi mungkin, ini mungkin lho, gundik itu semacam istri tapi kontrak alias kawin siri gitu). Herman Mellema adalah seorang PNS (kalo jaman sekarang sebutannya kurang lebih begitu dah) di pemerintahan Hindia. Herman Mellema ini ternyata bukan kompeni sembarang kompeni yang biasanya mencari gundik Cuma untuk kepuasan nafsu belaka, tapi justru Bang Herman ini mendidik Nyai menjadi seorang gundik terpelajar. Diajarkannya si Nyai ini membaca, menulis, dan berbahasa belanda serta tata cara hidup seorang eropa. Walhasil, nih gundik jadi BGB (bukan gundik biasa).

Nyai Ontosoroh adalah anak dari seorang PNS, juga di pemerintahan Hindia. Si Bapak yang menurut Nyai ini bejat, “menjual” nyai sebagai gundik ke Herman Mellema sebagai syarat naik jabatan. Dan Subhanallah dia bejat dan berhasil naik jabatan. Nyai tentu sebel,sebel,sebel sama bapak dan ibunya karena telah menjual dia, jadilah nyai ini dendam kesumat sama kedua orangtuanya.

Suatu saad (biar sedikit alay), tuan Mellema pengsiun (ni bahasa orang betawi, rinso jadi ringso, nonton jadi nongton, pensil jadi pengsil, dll.) dari jabatannya di pemerintahan. Untuk menyambung hidup, tuan mellema memebli tanah di Wonokromo (jalan-jalan yuk ke sana naek kotak sabun) untuk dibuat rumah juga awal membuka perusahaan. Tuan Mellema sangat cekatan mengurus perusahaan. Kecekatan tuan Mellema ini kemudian juga diajarkan kepada Nyai. Tuan ingin nyai menjadi seorang nyai yang terpelajar yang dapat mendobrak mitos bahwa pribumi adalah bodoh (nice dudeys nyai). Hebat betul tuan ini, banyak jasa yang diberikan kepada nyai. Tak hanya itu, Tuan Mellema juga sangat sayang kepada nyai, nyai diperlakukan seperti istirnya sendiri bukan sebagai gundik. Tapi suatu saat nyai menjadi kalap, tekanan sebagai gundik dan dendam terhadap orang tua membuat nyai buta akan jasa tuan Mellema.

Suatu sa4d (biar tambah alay) seorang insinyur dari eropa datang ke rumah Nyai dan Tuan Mellema dengan congkaknya. Si Insinyur berbadan tegap ini turun dari dokar dan disambut oleh Nyai. Nyai bertanya kepada insinyur tersbut mencari siapakah gerangan dia di sini. Insinyur berkata

“saya tidak mencari kamu orang pribumi, saya mencari Tuan Herman Mellema”

Si nyai sebagai pemilik rumah naik pitam, “bisa-bisanya dia bilang begitu. Emang dia pikir ini rumah siapa” Kata si nyai membatin (baca dengan mimik wajah Oma di Sinetron Cinta fitri saat sedang membatin sinis pada seseorang).

Pandang-pandnangan sinis antara insinyur dan nyai berjalan cukup lama. Pandang2an (kalo ini emang capek nulis, bukan alay) kemudian berhenti setelah tuan Mellema datang dan sang insinyur memperkenalkan diri. Ternyata eh ternyata si Insinyur adalah anak tuan Mellema dari istri sahnya di eropa sana. Si Insinyur ini membawa berita bahwa istri tuan Mellema yang ceritanya uda diceraikan di eropa ternyata menurut pengadilan masih jadi istri sah. Dan sudah berang tentu perusahaan yang dibangun tuan Mellema juga menjadi hak si Insinyur itu.

Si insinyur kemudian berkata-kata tentang keadaannya setelah ditinggal tuan Mellema dan bagaimana mereka berjuang melanjutkan hidup. Kata-kata si Insinyur bak mantra yang menghipnotis tuan Mellema. Si Tuan mengejar si insinyur setelah si insinyur meninggalkan rumah tuan Mellema. Dari situ tuan Mellema tidak pulang-pulang.

Nyai begitu sakit hati melihat tuan Mellema mengejar anaknya. Nyai merasa sebagai gunduk dia sangat dipermalukan. Nyai kemudian bersumpah tidak akan lagi mengurusi tuan Mellema. Sumpah nyai dibuktikan, tuan Mellema tak lama datang (saya lupa dalam hitungan hari, mainggu atau bulan) dengan rambut rapih, bersih dan wangi. Nyai tau ternyata selama ini kemana tuan Mellema pergi. Tak lain adalah rumah plesiran (rumah bordir) milik baba Ah Tjong.  Semakin sebel, sebel, sebel, saja nyai dengan tuan Mellema.

Tuan akhirnya berada di bawah ketiak nyai Onotosoroh yang kemudian menguasai perusahaan Tuan Mellema. Inilah kehebatan seorang Nyai pribumi yang dapat bertahan hidup di tengah masa yang kacau balau teruatama untuk pribumi. Tidak hanya bertahan, nyai ini juga dihitung sebagai pribumi sukses dan kaya. Dan semua itu tentunya tidak lepas dari campur tangan Tuan Mellema, tapi apa yang terjadi dengan tuan Mellema? TIDAK DIURUS SI NYAI!

Saya hanya berandai-andai, seandainya saat pulang ke rumah setelah dari rumah plesiran si Nyai menyiapkan minum untuk tuannya, lalu diajak berkomunikasi, menanyakan kemana selama ini tuan pergi, mengapa tega meninggalkan nyai, apakah ada hal yang bisa nyai bantu, ya pokoknya nyai perhatiin deh. Karen sudah lama tuan mengajarkan nyai dan menjadi payung buat nyai kenapa sekarang tidak dibalik saja. Toh tuan Mellema juga manusia yang punya masalah dan kelemahan

Andai Nyai mau lebih bijaksana waktu itu saya yakin kehidupan mereka lebih harmonis. Apalagi jika nyai menyadari betul apa yang telah tuan Mellema lakukan dan berikan selama ini pada Nyai. Luar biasa bukan, bukankah harusnya nyai justru menjaganya bukan mengacuhkannya. Saya yakin tuan Mellema membatin, Nyai seperti kacang lupa kulitnya.

Saya agak gatal dengan peristiwa ini, apa tuan Pramoedya ini ingin memberitahu bahwa (maaf) perempuan jawa seperti itu. Apapun yang telah diberikan tapi jika dia disakiti hatinya maka semua itu tidak pernah dianggap. Mereka tidak peduli apa yang akan terjadi dengan orang lain, yang ada dibenak mereka ada bagaimana caranya menyelamtkan diri sendiri. Kenapa saya berpikir seperti ini, liha saja Krisdayanti. Apa yang Anang sudah berikan selama  ini dalam sekejap amblas dilupakan oleh sang mantan istri yang sudah punya anak dua ini. Anang sebagai pahalawan kini dianggap sebagai gembel, dan status pahlawan berubah ke kekasihnya yang baru. Kalo ada wanita jawa, tolong komen ya.. biar perspektif saya gak salah.

Maka saya berpikir apa itu harga diri kalo hanya membuat rusuh hubungan? Memang mengapa jika mengalah? Apa lalu membuat harga diri anda rontok??

Mbuh lah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s