Jalan Penuh Mentari

Aku tahu jalan itu ramai. Menyenangkan bisa lewat sana. Bisa mengobati radang mata dan sedikit memberi tepukan di bahu. Menyadarkan dunia.

Tapi aku pilih jalan ini karena aku ingin cepat sampai. Jalan ini kosong seperti kota ditinggal perang. Kebanyakan orang tidak percaya diri, ikut-ikut memilih jalan itu, tapi aku bersyukur jalan ini tidak pekat. Ada cahaya, ada terang yang akan terus menemaniku berjalan ke sana, ke tujuan ku. Ke surgaku.

Surgaku. Seperti surga yang itu. Namanya merdu tapi mendengarnya jemu. Rindu tapi semu. Apa aku harus kembali ke jalan itu?

Kosong tapi terang, bercahaya. Sendiri tapi pasti.

Tapi mentari moody. Kadang terbit kadang tenggelam.

Tersadar, aku harus tetap melewati pekat dan kosong. Sabar, tunggu, nanti mentari datang lagi.

Tutup rapat-rapat badanmu dengan selimut tebal. Jangan menjuntai nanti dingin berbuat curang. Tutup matamu lembut, biarkan kelopak mata bagian dalam memberimu visual tentang mentari yang menghangatkan saat terbangun nanti.

Robb, jadikan surgaku nanti penuh terang dan cahaya disetiap langkah jarum jam. Dan biarkan angin lembut menggeser sedikit demi sedikit kelopak mata ini saat aku butuh mimpi. Jangan redupkan cahaya itu, itu pintaku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s