Mencari Wayang Golek di Buminya

Siapa yang tak kenal wayang golek, kesenian asli Jawa Barat yang masyhur dengan lakon si Cepot. Kesenian wayang ini disinyalir telah ada dari jaman majapahit dulu. Namun, sayangnya setelah hampir satu tahun saya tinggal di Jawa Barat, Bandung lebih tepatnya, saya tak menemukan satu pun spanduk atau selebaran yang menginformasikan pagelaran wayang.

Mungkin hal ini terlihat biasa, tapi kalo kita pernah hidup di Yogyakarta hal ini jadi terlihat payah. Pasalnya pagelaran wayang kulit sering sekali digelar di sana dan seperti umumya pagelaran, siapapun boleh nonton. Hebatnya lagi, wayang kulit di Yogyakarta biasa dipagelarkan di kampus-kampus sebagai bagaian dari acara dies natalis atau seremoni apapun, seperti peresmian gedung baru fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Fakultas ini mengadakan pagelaran wayang kulit sebagai bagaian dari acara peresmian. Nah, pagelaran pun tidak serta merta didominasi oleh yang berkepentingan dengan acara tersebut. Tetap pada kodratnya, ini adalah acara umum, siapapun boleh nonton. Untuk itu, pihak kampus bahkan memajang beberapa spanduk di tempat-tempat strategis agar masyarakat tahu bahwa ada pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati sebuah event. Tidak hanya itu, pemerintah pun ikut turun melestarikan budaya ini. Salah satunya RRI dan TVRI yang menjadikan pagelaran wayang kulit menjadi rutinitas acara.

Mengadakan pagelaran wayang kulit memiliki beberpa berkah sendiri. Pertama, jelas melestarikan budaya dan seni bangsa tercinta. Kedua, dalam pagelaran wayang kulit sudah menjadi kewajiban adanya pedagang-pedagang dadakan seperti pedagang nasi gorang, bakso, cilok, ronde, dll. Hal ini juga sebetulnya lumrah kita temukan di layar tancap, namun dilihat dari sisi bobot tontonan wayang kulit memiliki bobot lebih besar karena tidak ada unsur pornografi dan unsur khayalan yang biasa disuguhkan film-film. Untuk itu wayang kulit lebih recomended menurut saya. Memang tidak semua film seperti itu seperti Laskar Pelangi dan lain-lain cukup layak ditonton, namun kebanyakan hanya mengumbar khayalan. Selain itu, pagelaran yang diadakan oleh Universitas menjadikan wayang kulit naik pamor. Dari sini terlihat bagaimana civitas akademika Yogyakarta dapat lebih menghargai kesenian lokal. Bagaimana dengan Bandung?

Beberapa teman asli Bandung yang saya tanya menjawab bahwa wayang golek masih sering dipertunjukan tapi didaerah selain Bandung, seperti Sumedang, Tasik dan Garut. Lagi, kebanyakan acara digelar di acara-acara pernikahan di kampung-kampung karena menggelar wayang golek menjadi prestise sendiri. Mementaskan Wayang Golek menandakan tingkat perekonomian keluarga tersebut.

So, Seharusnya Bandung meniru Yogyakarta. Wayang Kulit seharusnya sering digelar dalam event kampus agar kesenian ini tetap terjaga. Selain bermanfaat sebagai pelestarian, mengadakan pentas wayang golek juga menjadi tanda dan bukti bahwa civitas akademika Bandung peduli akan seni dan budaya bangsa. Untuk itu, sudah sepatutnya lah pihak kampus yang saya yakin punya dana lebih untuk menggelar pertunjukan wayang golek agar wayang golek tidak tersesat di buminya. Tak hanya wayang golek, tapi juga tari Jaipon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s